Berita harian Kedaulatan Rakyat hari Kamis 6  Februari 2014 tentang adanya sekolah Muhammadiyah di Kalibawang Kulonprogo mewajibkan siswinya membuka jilbab sewktu proses pengambilan foto untuk ijazah menjadi ” Bencana ” tersendiri bagi kalangan umat Islam umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya.Jilbab yang menutup aurot menjadi kewajiban setiap muslimah untuk memakainya malah disuruh atau diwajibkan melepas hanya karena pengambilan gambar untuk ijazah.

Kasus yang menyulut protes dari para siswi di SMA tersebut perlu menjadi instrospeksi bagi para pengelola di SMA Muhammadiyah Kalibawang agar tidak menimbulkan gejolak dan persepsi yang negatif dari umat Islam.Persyarikatan Muhammadiyahpun perlu membuat aturan yang jelas sebagai acuan sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam menerapkan aturan pengambilan foto siswi untuk dipergunakan pada proses ujian dan rangkainnya. Bila tidak ada aturan yang jelas maka masalah semacam ini akan menimbulkan permasalahan yang penyelesaiannya banyak menguras energi semua pihak yang seharusnya energi tersebut bisa difokuskan untuk kesuksesan ujian para siswa serta kesuksesan mereka menerobos dunia kerja setelah mereka lulus.

Seharusnya masalah foto sudah jelas bahwa para wanita wajib menutup aurot ,dan yang bisa diperlihatkan hanya muka dan telapak tangan, semoga kasus ini tidak menimpa sekolah lain khusunya sekolah -sekolah yang bercirikan agama Islam dan khususnya sekolah-sekolah Muhammadiyah dimanapun berada.