Hikmah :

“Paling dekat seorang hamba kepada Robbnya ialah ketika ia bersujud maka perbanyaklah do’a (saat bersujud)” (HR. Muslim)

Tradisi “Bersih Desa “ atau Rasulan merupakan  kegiatan rutin di beberapa desa di Gunungkidul.Tradisi yang  esensinya sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat panen yang telah diberikan Allah SWT kepada para petani memang menjadi kegiatan rutin  bagi sebagaian masyarakat.

Di satu sisi kegiatan tersebut merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat karena menjadi ajang saling memberi,saling bersilaturahmi  sekaligus menikmati hiburan tradisional seperti Wayang kulit, Reog ,Ledhek ,Dhoger dan sebagainya .Tetapi disisi lain bila dikemas berlebih-lebihan menjadi tradisi yang sangat memberatkan bagi warganya.

Salah satu desa di Gunungkidul seperti Wareng misalnya tahun ini 2012 untuk menyukseskan Tradisi Rasulan menghabiskan dana sekitar empatpuluh Sembilan juta rupiah lebih yang terdiri dari tarikan perkeluarga sebesar lima puluh ribu rupiah.Dana tersebut dikelola panitia untuk kegiatan nanggap Wayang kulit, Campursari, Pegajian, Ledhekan dan sebagainya.

Pengeluaran lainnya setiap keluarga juga tidak kalah besarnya baik untuk kondangan atau menjamu tamu maupun yang lain.Selain itu bagi keluarga yang masih mempunyai anak kecil maka dengan adanya tontonan yang beraneka macam tersebut maka mereka tidak sedikit yang harus mengeluarkan uang saku untuk anak-anaknya.Bila dalam Rasulan tersebut ada 3 kali tontonan dan setiap kali peranak diberi uang saku sepuluh ribu rupiah maka satu anak saja diperlukan sekitar tiga puluh ribu rupiah .Bila mempunyai dua anak maka untuk uang saku anaknya diperlukan dana sekitar enam puluh ribu rupiah.

Suatu pengeluaran yang tidak sedikit apalagi bagi keluarga yang tidak mampu, sehinga menjadi kebutuhan yang memberatkan.

Dengan melihat semacam ini maka alangkah baiknya bila tokoh-tokoh masyarakat bertindak bijak dengan cara menyederhanakan tradisi tersebut sehingga biaya lebih murah tetapi tradisi tetap bisa dilaksanakan.

Semoga menjadi pemikiran berbagai pihak yang masih melaksanakan tradisi Rasulan tetapi bagi desa yang sudah tidak melaksanakan itupun merupakan langkah yang terbaik karena tidak memberatkan masyarakatnya.