Mari Berantas Pornografi dan Pornoaksi yang merusak generasi muda harapan bangsa


Musim panen padi di Gunungkidul  rata- rata sekali dalam setahun  walaupun di bebrapa tempat ada yang dua kali.Hal ini dikarenakan tanah yang ada sebagaian besar berupa tanah tegalan atau tanah tadah hujan.

Karena musim panen padinya bersamaan maka sebagian besar batang padi ( damen : bahasa Jawa )  banyak yang terbuang karena kehujanan dan akhirnya membusuk.Pada hal di musim kemarau satu truk damen bisa mencapai harga tujuh ratus ribu rupiah.Perlu diketahui batang padi atau damen di musim kemarau menjadi makanan ternak khusunya sapi atau lembu.

Kebanyakan petani masih secara tradisional dalam penyimpanan damen tersebut.Penyimpanan secara umum kebanyakan di jemur dahulu sampai kering baru kemudian dimasukkan kedalam lumbung damen atau “Tandho  dalam bahasa Jawa”.Penyimpanan damen dengan cara dikeringkan atau dijemur di terik matahari pada musim panen menjadi pekerjaan yang menyita banyak energi.Selain sinar matahari yang kurang bersahabat,tenaga menjemur yang perlu ekstra juga kadang-kadang secara mendadak turun hujan yang sangat deras sehingga damen yang sudah kering akan kembali basah karena kehujanan.Dengan penyimpanan secara manual tersebut maka banyak damen yang terbuang percuma karena membusuk.

Petani banyak yang belum tahu cara penyimpanan damen dengan fermentasi,sehingga menempuh penyimpanan secara manual tersebut.Perlu percontohan dan pemasyarakatan mengawetkan damen dengan system fermentasi karena selain tidak memerlukan tenaga yang ekstra, juga tidak tergantung sinar matahari serta tidak terhambat karena hujan yang terus menerus sekalipun.

Pemerintah daerah Gunungkidul lewat Dinas Pertanian perlu memberi percontohan pengawetan damen untuk makanan ternak dengan system fermentasi agar bisa membantu para petani menyediakan pakanan ternaknya di musim kemarau.

Hikmah :

“Dua mata yang diharamkan dari api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang menjaga serta mengawasi Islam dan umatnya dari (gangguan) kaum kafir. (HR. Bukhari)”