Penggunaan listrik yang tidak cermat berarti menghambur-hamburkan uang.Salah satu contohnya bisa kita lihat lampu penerangan di rumah-rumah penduduk atau lampu penerangan di jalan baik milik pemerintah maupun milik penduduk.

Banyak lampu penerangan khusunya dipagi hari walaupun sudah terang karena sinar matahari ,lampu tersebut belum dimatikan .Pada jam enam pagi lampu  penerangan belum dimatikan,padahal  sekitar jam lima atau paling lambat jam setengah enam pagi  lingkungan sudah terang karena sinar matahari .

Bila kita  perhitungkan satu lampu selama satu jam menghabiskan  dana sebesar Rp 25,00 ( dua puluh lima rupiah ) maka selama satu bulan pada satu lampu akan terjadi pemborosan sebesar  Rp 25 kali 30 hari dan akan ketemu nominal sebesar  Rp 750,00 .Satu keluarga yang lampu penerangan halaman 2 buah maka satu bulan akan terjadi pemborosan  sekitar Rp 1.500, ( seribu  lima ratus rupiah )

Bila satu  keluarga dengan 2 lampu penerangan setiap bulan terjadi  pemborosan sekitar lima ratus rupiah maka untuk satu desa dengan seribu rumah sudah akan terjadi pemborosan  Rp 1.500.000,00 ( satu juta lima ratus ribu rupiah ) suatu jumlah  yang cukup besar .bila diberikan pada fakir miskin atau orang yang sangat membutuhkan.

Dengan melihat perhitungan kasar tersebut maka mematikan lampu penerangan sebelum matahari terbit akan menghemat penggunaan listrik dan mengurangi pembayaran listrik,sehingga selisih dana pembayaran listrik tersebut bisa kita pakai untuk kebutuhan yang lain atau untuk infaq sodaqoh dan sebagainya.

Hemat penggunaan lampu penerangan berarti menghemat pengeluaran .Mari kita coba.

Hikmah :

 

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.(Al Israa’:26-27)