Sesuatu Yang kurang menarik setelah hajatan selesai: Sumbangannya dapat berapa ?

Hajatan merupakan kegiatan kemasyarakatan dan social di lingkungan kita.Banyak acara yang dilaksanakan dengan hajatan seperti khitanan,pernikahan  syukuran dan sebagainya.Ada yang silaksanakan secara sederhana tetapi banyak juga yang dilaksanakan secara besar-besaran.Yang dilaksanakan secara sederhana cukup dengan tetangga terdekat tanpa undangan resmi dan makanan maupun minumanpun dengan bahan sesuai kemampuan si empunya hajat.Yang penting ada makanan atau minuman.

Dengan berkembangnya waktu dan kepentingan hajatan mulai berkembang menjadi sarana silaturahmi,sekaligus sebagai pengangkat status social di masyarakat.Semakin besar melaksanakan hajatan maka harapannya status sosialnya akan meningkat .Untuk meningkatkan kesemarakan hajatan akhirnya ditempuh dengan berbagai cara seperti membuat undangan sebanyk-banyaknya ,memakai sound system yang bertenaga besar dan sebagainya.Surat Uandangan dibuat dengan cover yang menarik bahkan ada yang sebuah surat undangan seharga sepuluh ribu rupiah.Dalam undanganpun tertulis dengan jelas “ Minta Do’a Restu “ tanpa kata-kata minta sumbangan.

Hajatan yang seharusnya sehari selesai berkembang menjadi 2 atau 3 hari sehingga kesibukan meningkat sesuai dengan durasi waktu yang ada.

Selesai hajatan  maka waktu penghitungan sumbangan dimulai dengan mengundang keluarga dan tetangga terdekat dengan kesimpulan “Sumbangan dari para tamu undangan mendapat berapa juta rupiah”

Akhirnya berita berapa mendapatkan sumbangannya tersebar kemana-mana dapat berapa juta ,si A nyumbang berapa puluh ribu dan sebagainya.Dan berita atau informasi yang banyak keluar adalah “ Berapa Pendapatan Sumbangan Para Tamu “ Sesuatu yang kurang cocok bila dihubungkan dengan kartu Undangan “ MOHON DO’A  RESTU “