Pendidikan yang menjadi tanggungjawab bersama antara sekolah, masyarakat atau lingkungan dan orang rua perlu mendapatkan penekanan dari berbagai unsur.Banyak anak yang kemudian kurang terdidik atau menjadi liar dalam tanda petik karena 2 pilar dalam pendidikan tidak berperan sbagaimana mestinya.
Salah satu contoh sewaktu penulis mengisi kegiatan Idul Adha di salah satu SD yang bercirikan agama Islam di Gunungkidul secara acak dan sekilas menanyakan kepada siswa dan siswi peserta siapa yang tadi sholat Subuh .Ternyata jawabannya sungguh diluar dugaan hanya dua sampai tiga siswa yang melaksanakan sholat Subuh dari sekitar tujuhpuluhan siswa yang hadir.Kemudian penulis menanyakan lagi siapa yang rutin melaksanakan sholat lima waktu ternyata hanya ada 2 siswa yang menunjukkan jari.

Dari tujuhpuluhan siswa SD tersebut di sekolah memang ada jadwal sholat Dzuhur saja sebab setelah sholat Dzuhur kemudian pulang.Untuk Sholat Subuh, A’sar, Maghrib dan Isya’ maka kondisi siswa sudah berada di rumah masing-masing sehingga pemantauan pelaksanaan sholat sudah menjadi tanggungjawab orang tua maupun masyarakat ,tetapi karena perhatian orang tua maupun masyarakat saat ini sangat kecil maka akhirnya anak-anak tersebut tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.Bila ini terus berkepanjangan maka akibatnya anak-anak tersebut sangat jauh dari kebiasaan sholat yang nantinya menjadi kewjibannya setelah dewasa nanti.Bila sudah semacam ini maka akibatnya banyak remaja muslim yang tidak melaksanakan sholat yang seharusnya menjadi kewajibannya dan lemahlah generasi umat muslim nantinya.

Dengan melihat akibat semacam itu maka sebaiknya peran orang tua dan masyarakat lebih berperan aktif dalam menggerakkan anak-anaknya agar melaksanakan sholat setiap harinya agar nantinya menjadi generasi yang tangguh dan kuat aqidahnya.