Musim kemarau yang sudah beberapa bulan serta tidak adanya hujan kiriman membuat makanan ternak di Gunungkidul menjadi langka.Daun Turi yang biasanya di musim kemarau menjadi cadangan mulai bebrapa tahun ini sebagian besar dimakan hama sehingga daunnya rontok dan kering.Begitu juga tanaman kolonjono hamper sudah mati semua,selain dipinggir pinggir sungai . Keadaan tersebut membuat hijauan makanan ternak di Gunungkidul menjadi langka dan harus mendatangkan dari luar daerah.Banyaknya ternak baik sapi maupun kambing di Gunungkidul tidak sebanding dengan cadangan makanan hijauan di luar daerah, sehingga menyebabkan harga menjadi tinggi. Setiap hari beberapa puluh truk pengangkut makanan ternak berdatangan dari luar Gunungkidul baik lewat Patuk maupun lewat Sambeng Ngawen dan Semin.Dari puluhan truk tersebut maka harus didistribusikan ke setiap desa bahkan dusun yang ada . Di sekitar Wonosari harga seikat pohon jagung sebesar sepuluh ribu rupiah yang berisi antara 8 -9 batang pohon jagung.Semakin ke selatan dari Wonosari karena semakin besar biaya transportasinya maka harganya lebih mahal lagi.Untuk seekor lembu perhari untuk bisa kenyang akan menghabiskan tiga ikat pohon jagung seharga tiga puluh ribu rupiah. Setrategi peternak agar tidak terlalu berat maka sapi-sapi tersebut diberikan makanan kering berupa daun bamboo kering atau bonggol batang ketela dan juga batang pisang dan batang papaya.Dengan setrategi ini maka perekor sapi untuk bisa bertahan hidup cukup seikat pohon jagung seharga sepeuluh ribu rupiah. Semoga musim kemarau yang terjadi sampai akhir bulan September ini cepat berlalu dan segera turun hujan sehingga tanaman –tanaman khusunya makanan ternak segera tersedia lagi.Bagi masyarakat sebaiknya digerakkan untuk melaksanakan Sholat Minta Hujan atau sholat ISTISQO’ agar Allah SWT segera menurunkan hujan. Selain itu dihimbau seluruh komponan masyarakat agar memperbanyak amal sholeh dan menghindari perbuatan dosa supaya Allah SWT mau menolong kita bersama.