Teroris Yang bernama Pornografi telah memakan anak Bangsa sehingga harus gugur dari sekolah cukup sampai sekolah SD saja karena terlanjur hamil.Berita di republika.co.id tanggal 10 Mey 2011 yang menyatakan siswa kelas 6 di salah satu SD di Mojokerto Jawa Timur harus Ujian Nasional dalam kondisis hamil 6 bulan sungguh menjadi keprihatinan kita bersama.Di satu sisi semangat belajarnya sangat tinggi di sisi yang lain sudah menjadi korban “Teroris Pornografi “ sehingga harus mengorbankan teman-temannya.

Tindakan asusila atau sex bebas tidak bisa terlepas dari gambar-gambar porno yang saat ini banyak beredar lewat berbagai media dan paling banyak lewat media  elektronik semacam handphone dan internet.Walaupun sekolah sudah menerapkan aturan dengan segala sangsinya tetapi di luar sekolah sulit untuk dikontrol ,apalagi waktu di sekolah hanya sekitar 6-7 jam dalam sehari semalam.Otomatis waktu yang 17-18 jam siswa akan menghabiskan waktunya di luar sekolah.Kontrol dari orang tua dan lingkungan juga sudah semakin menipis sehingga ruang gerak mereka untk menikmati gamabar dan video porno menjadi leluasa.

Gizi yang baik akan menambah LIBIDO mereka bila sudah terpengaruh oleh gambar porno atau video porno,kemana lagi mau di salurkan kalau bukan dengan teman atau pacarnya.Bila sudah mencoba maka akan timbul katagihan sehingga perbuatan itu akan terus berulang-ulang samapai waktu yang tidak dapat ditentukan.

Melihat bahayanya gambar-gambar porno dan video porno tersebut maka diperlukan langkah-langkah dari semua komponen masyarakat untuk menanggulangi atau meminimalisir perdaran “TERORIS PORNOGRAFI “tersebut.

Bila tidak maka tidak menutup kemungkinan anak kita atau cucu kita termakan oleh TERORIS PORNOGRAFI sehingga hamil sebelum lulus sekolah atau ditangkap polisi karena melakukan sex bebas atau bahkan menjadi korban yang lebih besar MENINGGAL KARENA ABORTUS.

Bagaimana bila itu menimpa anak-anak kita atau cucu –cucu kita,Masihkan kita akan diam saja?

Hikmah :
Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)