Jabatan saat ini banyak dikejar-kejar orang baik dari tingkat terendah kepala dusun  ,Lurah ,Camat, Bupati Gubernur maupun Presiden serta jabatan -jabatan di instansi-instansi lainnya.Orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah bahkan ratusan juta dan milyard untuk mendapatkan jabatan yang diinginkan.Untuk menjadi kepala dusun ( dukuh) ada yang menghabiskan sampai puluhan juta rupiah apalagi yang namanya lurah dan jabatan di atasnya.

Banyak memang yang diinginkan setelah mendapatkan jabatan tersebut , salah satunya status sosial dengan memiliki jabatan maka secara umum status sosial akan naik, setiap ada pertemuan rapat atau hajatan maka yang namanya pak dukuh,pak lurah pak camat pak Bupati dan seterusnya akan mendapatkan perlakuan khusus.Perlakuan khusus tersebut bisa berupa tempat duduk ,makanan, fasilitas maupun transport dan sebagainya.

Selain status sosial bisa juga berupa peningkatan kesejahtraan  baik kesejahtraan lahir maupun batin.Kesejahtraan lahir berupa peningkatan ekonomi ,kesejahtraan batin salah satunya “penghormatan khusus” dari masyarakat yang ada di depannya atau masyarakat yang dipimpinnya.

Padahal jabatan besuk dihari khiamat dan dihadapan Allah akan dimintai pertanggungjawaban dari yang sekecil-kecilnya sampai yang besar.Rasulullah melarang umatnya dari meminta-minta jabatan dan ini dilaksanakan oleh para sahabat Nabi sampai-sampai keempat pemimpin besar atau kholifah yang masuk golongan khulafaur rasyidin mereka menolak semua sewaktu umat Islam menunjuknya untuk diangkat sebagai kepala negara sepeninggal Rasulullah SAW.Tetapi saat ini terjadi kebalikannya hampir semua lini yang namanya jabatan menjadi rebutan untuk bisa mendudukinya.

Semoga umat Islam sadar bahwa jabatan merupakan amanah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak .

PT Arminareka Perdana