KenanganRumah mbah Sinem Singkar II Wareng Wonosari

Gb. Rumah mbah Sinem dan Sumur tuanya

Rumah mbah Sinem menjadi kenangan tersendiri sewaktu penulis masih kecil.Hampir setiap malam penulis tidur di rumah ini berangkat sore dan kembali pulang pagi hari.Bila malam banyak pemuda yang dating ke rumah ini karena ada seperangkat gamelan yang bisa dipakai untuk kegiatan karawitan,sehingga walaupun dekat dengan alas ( ladang) tetapi tidak kalah ramainya dengan yang dipinggir jalan besar.

Listrik belum ada sehingga untuk penerangan menggunakan lampu petromak atau setrongking yang berbahan bakar minyak tanah. Bila tidak ya menggunakan lampu teplok.Walaupun dengan penerangan sederhana semacam itu ,kegiatan latihan nggamel cukup meriah.

Saat ini ,sekitar 35 tahun dari masa itu,lampu teplok sudah tidak ada, lampu setrongking juga sudah jarang digunakan dan pelaku yang saat itu masih remaja ,sekarang sudah rata-rata mempunyai cucu dan rumah mbah Sinem menjadi sepi kembali dari kegiatan latihan nggamel,apalagi dengan tumbuhnya hiburan yang lain seperti televise dan Hanphone maka latihan nggamel sudah tidak ada lagi.

Hikmah:

“Umatku akan tampil pada hari kiamat dengan wajah bersinar, tangan serta kakinya berkilauan dari bekas-bekas wudhu.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)