Archive for August, 2009


Sumber :www.eramuslim.com

Tidak salah lagi, kurma sudah pasti jadi makanan favorit khas Ramadhan. Sebagai makanan pembuka, kurma memang berada di urutan paling atas yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Tapi kita mungkin belum begitu mengetahui ada apa di balik buah kurma itu sebenarnya. Manfaat apa saja yang ada dalam buah kurma sehingga Rasul yang menganjurkan kurma sebagai salah satu menu buka puasa kita?

Sejarah kurma

Kurma berasal dari jazirah Arab (Timur Tengah), dan nama latinnya adalah Phoenix dactilyfera. Dinamakan begitu konon karena memang ada hubungannya dengan burung Phoenix yang bisa bereinkarnasi setiap kali ingin mati—Ini kepercayaan orang Mesir dan Yunani kuno.

Beberapa tahun ini, beberapa peneliti Israel mulai melirik untuk membudidayakan pohon kurma (seperti dilansir LiveScience.com). Israel menanam biji kurma yang usianya sampai 2000 tahun. Sampai sekarang, nih pohon baru setinggi 30 cm. Rencananya sih mereka bakal meneliti DNA pohon itu biar tahu bisa tidak pohon zaman purba memberikan manfaat buat kehidupan modern.

Manfaat kurma

Banyak manfaat kurma yang baru terkuak di zaman ini, khususnya buat kesehatan. Dari Salman ibn ‘Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kenapa mesti kurma? Jika kita berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) butuh sesuatu yang lembut biar bisa bekerja lagi dengan baik. Jadi makanannya harus yang mudah dicerna dan juga mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu atawa dua zat gula (kalau tidak glukosa, ya sukrosa).

Nah, untuk hal ini kurma adalah makanan yang paling baik. Kurma mengandung zat gula yang tinggi yaitu antara 75-87% dan glukosanya sebanyak 55%, fructose (fraktosa) 45% lebih tinggi dari jumlah protein, minyak dan beberapa vitamin (seperti vitamin A, B2, B12), dan sejumlah zat penting laen kayak kalsium, phosphor, potassium, sulfur, sodium, magnesium, cobalt, seng (zinc), florin, nuhas (tembaga), salyolosa, dan sebagainya. Fraktosa bakal diubah jadi glukosa dengan cepat dan langsung diserap oleh organ pencernaan, lantas dikirim ke seluruh tubuh, khususnya ke organ-organ inti seperti otak, syaraf, sel darah merah, dan sel pembersih tulang.

Seperti yang kita ketahui, di ujung puasa kita setiap harinya, glukosa dan insulin dalam darah yang datang ke katup hati akan bergetar. Artinya proses buka puasa kita bakal meminimalisir pemakaian glukosa yang diambil dari organ hati dan sel-sel ujung (seperti otot-otot en sel syaraf) jadi sesuatu yang bisa menghilangkan setiap zat yang terkandung dalam gelokogen hati. Saat-saat seperti ini, organ-organ sangat bergantung untuk mendapatkan energi dari CO2 (karbondioksida) kimiawi dan oksida glukosa yang terbentuk dalam hati dari asam amino dan gleserol.

Jadi, melentur dan memanjangnya organ penyerap makanan jadi sangat berarti. Maksudnya, penyerapan glukosa yang cepat di dalam katup pembuluh darah vena di hati akan masuk ke dalam organ hati untuk pertama kalinya, kemudian masuk ke sel otak, organ pencernaan, otot-otot, dan seluruh jaringan tubuh yang laen. Makanya, zat gula itu makanan terbaik buat tubuh karena bisa menghentikan oksidasi karbon kimiawi, memangkas zat-zat berbahaya dalam tubuh, dan bisa meminimalisir lemahnya serta gemetarnya organ pencernaan. Cukup rumit ya?

Dr. Hissam Syamsi Basya dalam tulisannya menjelaskan berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5% serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi dengan kurma mengkel (atau Ruthab) yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula, 1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh. Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf en Dr. Ali Ahmad Syahhat pernah melakukan penelitian kimiawi dan fisiologi terhadap kurma, hasilnya? Menakjubkan! Coba lihat:

1. Jika kita buka puasa dengan kurma ruthab atawa tamar, persentase kandungan zat gula kita akan naik, artinya bisa membantu mengilangkan penyakit anemia (kurang darah). Oya, ruthab itu artinya kurma yang mengkel, yang masih segar, dan juga matang di pohon. Nah, kalo tamar itu kurma matang kering yang banyak terdapat di Indonesia (misalnya yang banyak dijual di Pasar Tanah Abang, Jakarta).
2. Waktu lambung kosong karena tidak makan seharian, pas buka, lambung, akan lebih gampang mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula, malah lebih cepat dan maksimal lagi.
3. Kandungan zat gula dalam ruthab dan tamar (tentunya dalam bentuk kimia sederhana) menjadikan proses pencernaan di lambung jadi sangat mudah, soalnya 2/3 zat gula yang ada dalam tamar dan ruthab bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat.
4. Selain itu, kita juga tidak perlu minum banyak-banyak lagi sewaktu buka jika kita makan ruthab atau tamar, karena sudah mengandung air 65-70%?! Tetapi sangat tidak dilarang untuk minum pun.

Subhanallah. Tidak heran jika Rasulullah menganjurkan kurma sebagai salah satu makanan pembuka puasa kita yang utama. (in/sa/berbagaisumber)

eBook Baru: Z A K A T

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Koleksi eBook terbaru di Maktabah Raudhah al-Muhibbin:
Judul: Zakat
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Dalam risalahnya yang ringkas ini, Syaikh bin Baz rahimahullah menjelaskan
berberapa perkara mengenai zakat, hikmanya, harta yang wajib dizakatkan
serta cara menunaikan zakat. Risalah yang dijadikan sumber dari eBook ini
juga memasukkan beberapa fatwa beliau terkait masalah zakat harta. Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kita.

Untuk download, silhkan klik kanan dan save link (target) as Z a k a t, atau baca online di Ruang BacaBarakallahu fikum


Redaksi
Maktabah Raudhah al-Muhibbin
redaksi@raudhatulmuhibbin.org
http://www.raudhatulmuhibbin.org
http://artikel.raudhatulmuhibbin.org (ruang baca obnline)
http://bam.raudhatulmuhibbin.org (taman bacaan anak)

Pendeta Katolik, Menemukan Kebenaran Islam

Sumber : http://www.eramuslim.com

Sebelum memeluk agama Islam, ia adalah seorang pendeta agama Katolik Roma dan menjadi kepala bidan pendidikan agama di sekolah khusus anak laki-laki di selatan London. Bulan Ramadan menjadi bulan penuh kenangan bagi lelaki yang kemudian menggunakan nama Idris Tawfiq ini, karena pada bulan suci itulah ia menemukan Islam dan memeluk agama Islam hingga sekarang.

Di Inggris, kata Idris, semua siswa menerima pelajaran tentang enam agama utama yang dianut masyarakat dunia. Sebagai kepala bidang pendidikan agama, Idris yang ketika itu belum masuk Islam bertanggungjawab untuk memberikan mata pelajaran tentang agama Kristen, Yudaisme, Budha, Islam, Sikh dan Hindu. Ia hanya menjelaskan perbedaan keenam agama tersebut dan tidak mereferensikan siswanya untuk memeluk salah satu dari keenam agama tersebut.

Idris tentu saja harus membaca berbagai informasi tentang Islam sebelum memberikan pelajaran tentang agama Islam pada para siswanya. Karena pernah berkunjung ke Mesir dan melihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat Muslim, Idris mengaku respek dengan Muslim yang menurutnya ramah dan lembut. Di sekolahnya sendiri, sebagian siswanya adalah Muslim dan banyak dari mereka yang berasal dari negara-negara Arab.

Idris ingat, beberapa hari sebelum bulan Ramadan, beberapa siswanya yang Muslim mendekatinya dan bertanya apakah mereka bisa menggunakan kelas Idris untuk keperluan salat, kebetulan kelas tempat Idris mengajar berkarpet dan memiliki wastafel. Meski peraturan sekolah di Inggris saat itu tidak memberi ijin siswa untuk melaksanakan peribadahan di sekolah.

Idris mengijinkan permintaan siswanya itu. Tapi kepala sekolah mengharuskan seorang guru hadir untuk mengawasi kelasnya saat digunakan untuk salat. “Saya belum menjadi seorang muslim ketika itu, tapi Allah bekerja dengan caranya yang sangat istimewa, memberikan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan untuk membuat keajaiban dalam hidup kita,” tukas Idris.

Maka, selama bulan Ramadan itu, pada waktu makan siang, Idris duduk di belakang menyaksikan siswanya yang Muslim salat dzuhur, ashar dan salat jumat berjamaah. Apa yang dilihatnya ternyata menjadi pembuka jalan bagi Idris untuk mengenal Islam. Idris jadi tahu bagaimana seorang Muslim salat dan ia bisa mengingat beberapa bacaan salat meksi ia tak paham artinya. Oleh sebab itu, usai Ramadan, Ia tetap membolehkan siswanya yang Muslim untuk salat di dalam kelasnya sampai Ramadan tahun berikutnya.

Kali ini, Idris yang masih belum masuk Islam, ikut berpuasa sebagai bentuk solidaritas terhadap siswanya yang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ketika itulah keinginannya untuk masuk Islam semakin kuat dan setelah bulan Ramadan itu, Idris memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi seorang Muslim.

“Alhamdulillah, saya menjadi seorang muslim. Tapi itu cerita lain. Apa yang dicontohkan para siswa saya yang Muslim telah membawa saya menjadi seorang muslim. Sejak itu, saya ikut salah berjamaah bersama mereka, sebagai soerang mualaf,” ungkap Idris.

Ramadan tahun berikutnya adalah Ramadan pertama bagi Idris sebagai seorang Muslim. “Ramadan pertama itu sangat istimewa. Di akhir bulan Ramadan, saya bersama para siswa menggelar buka puasa bersama. Untuk meraih malam Lailatul Qadar, saya bersama para siswa itikaf di sekolah,” kenang Idris tentang Ramadan pertamanya.

Usai jam sekolah saat Ramadan, sambil menunggu waktu berbuka, Idris dan para siswanya yang Muslim menyaksikan film bersama tentang kehidupan Rasulullah Saw. Usai salat maghrib berjamaah, mereka membuka bekal makananan dan minuman masing-masing yang dibawa dari rumah dan saling berbagai dengan yang lainnya.

Saat Idris menjalankan ibadah puasa Ramadan pertamanya sebagai Muslim, ketika itu masyarakat Inggris sedang dilanda Islamofobia karena baru saja terjadi peristiwa serangan 11 September 2001 di AS. Banyak warga Inggris yang curiga pada Islam dan Muslim. Tapi alhamdulillah, beberapa guru non-Muslim di sekolahnya datang dan mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Kepala sekolah bahkan membawakan mereka kurma untuk berbuka, karena dari siswanya yang Muslim ia tahu bahwa Rasulullah Muhammad Saw selalu berbuka dengan makan kurma.

Idris mengakui, menjalankan ibadah puasa Ramadan di negara non-Muslim tidak mudah. “Seringkali kita menjadi satu-satunya orang yang berpuasa. Setelah berbuka, tidak ada kegiatan istimewa apalagi kalau letak masjid sangat jauh,” ujar Idris.

“Tapi, malam-malam di Ramadan pertama saya sebagai muslim adalah malam yang sangat istimewa yang tidak akan saya lupakan. Saya bisa menyampaikan pesan Islam pada semua yang hadir disana bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh kegembiraan dan penuh persaudaraan yang sangat menyentuh hati kita, Alhamdulillah,” tukas Idris menutup kisah pengalaman Ramadan pertamanya sebagai seorang yang baru masuk Islam. (ln/iol)

Hikmah :

Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Abdullah Abdul Malik: Melihat Secercah Cahaya Memancar dari Al-Quran

sumber : http://www.eramuslim.com

Sejak menjadi seorang Muslim lima tahun yang lalu, pria asal Philadelphia, AS ini mengubah namanya menjadi Abdullah Abdul Malik. Malik yang kini berusia 28 tahun, melewati perjalanan hidup yang pahit sebagai remaja AS sebelum mengenal Islam. Ia terlibat perdagangan narkotika dan pernah mendekam di penjara.

Malik tidak pernah menyangka akan melewati kehidupan yang suram itu. Ketika masih kanak-kanak, ia mengalami masa-masa yang menyenangkan seperti layaknya anak-anak Amerika pada umumnya, bermain bola, mendengarkan musik rap dan menikmati film-film action.

“Saya berpikir, apa yang saya lakukan sungguh keren, dan begitulah hidup harus dijalani, menghadapi bahaya dan tantangan. Oleh sebab itu saya mencontoh para penyanyi rap itu dan film-film action yang saya lihat. Saya mulai memiliki pola pikir bahwa hidup harus melakukan pemberontakan terhadap masyarakat,” ujar Malik mengenang masa kecilnya.

Musik rap dan tv ternyata sedemikian buruknya mempengaruhi perkembangan kejiwaan Malik. Dan itu terbawa hingga ia beranjak remaja. Sejak duduk di bangku sekolah menengah hingga usia 23 tahun, ia sudah berjualan mariyuana. Kehidupannya pun kacau, dikhianati teman, menjadi paranoid, tidak tahu siapa orang yang bisa ia percaya.

“Jiwa saya terasa kosong. Saya depresi dan terisolasi. Satu-satunya cara untuk melepaskan tekanan hidup itu adalah mencipatkan musik saya sendiri,” ungkap Malik.

Malik betul-betul seorang diri ketika keluarganya tersandung masalah keuangan dan memutuskan pindah ke Florida. Malik tetap memilih tinggal di Philadelphia, Pennsylvania. “Tempat ini rumah saya dan saya belum siap meninggalkannya,” kata Malik.

Sejak ditinggal keluarganya, Malik pindah ke sebuah apartemen dan berjuang menghidupi dirinya sendiri. Ia mengaku merasa sendiri dan sulit menjalani kehidupannya. Sampai suatu ketika, seorang polisi yang menyamar menangkap Malik yang sedang berjualan mariyuana. Malik harus menjalani pemeriksaan dan pada saat itulah ia merasakan tekanan batin yang menyiksa dan rasa takut akan masuk penjara.

Di tengah rasa takut yang menyiksanya, Malik memutuskan untuk berhenti berjualan narkotika. Ia berusaha mencari pekerjaan lain yang halal. Beruntung, Malik mendapatkan pekerjaan dan di tempat kerjanya ia bertemu seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun yang mengenalkannya pada Islam.

Hal pertama yang ditanyakan Malik ketika itu adalah, apakah Muslim percaya pada Yesus. Dari lelaki itu Malik tahu bahwa Muslim meyakini Yesus, tapi sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan. Lelaki itu juga menjelaskan bahwa umat Islam meyakini semua nabi mulai dari Adam sampai Muhammad dan bahwa Allah itu Esa.

Malik bisa menerima penjelasan lelaki itu dan menganggap bahwa keyakinan itu sebagai hal yang logis. Ia merasa menemukan saat yang tepat untuk mengubah hidupnya yang selama ini tak tentu arah. Malik mengaku percaya adanya Tuhan, tapi ia bingung dengan banyak hal dalam ajaran Kristen yang diketahuinya sehingga ia tidak pernah bisa menerima agama Kristen sebagai sebuah kebenaran.

Suatu malam saat mengantarkan lelaki rekan kerjanya itu pulang kerja, Malik diberi kitab suci Al-Quran. Ia berterimakasih dan membaca Al-Quran pemberian itu malam itu juga. “Kitab itu seperti bicara pada saya dan saya mendapatkan banyak kejelasan sehingga saya yakin bahwa inilah kebenaran dan hanya Tuhan yang bisa menyatukannya dalam buku semacam ini,” ungkap Malik.

“Al-Quran itu masuk akal buat saya dan membuat saya merasa damai saat membacanya, kedamaian yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan,” sambungnya.

Ketika itu, Malik masih dalam pengawasan polisi. Namun Malik berpikir, polisi sedang menunggunya untuk melakukan kesalahan yang lebih besar untuk menangkapnya dan jika ia tidak melakukan kesalahan, ia akan bebas. Tapi pikiran itu meleset, setelah melewati investigasi, aparat kepolisian menangkap Malik dengan tuduhan menjual mariyuana.

Malik kehilangan pekerjaannya karena ia ditahan polisi. Keluarganya di Florida membayar jaminan dan sempat syok mendengar kasus puteranya..

Cahaya dari Al-Quran

Selama menjalani masa bebas bersyarat, Malik terus membaca terjemahan Al-Quran dan memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Lalu keajaiban itupun ia alami. Suatu malam ketika ia sedang membaca Al-Quran dalam cahaya reman-remang, ia melihat secercah sinar seperti memancar dari Al-Quran.

“Saya yakin itu adalah tanda dari Tuhan tentang kebenaran kitab ini dan hidup saya akan berubah selamanya. Cahaya itu muncul selama hampir 45 menit. Saya bermaksud memberitahukan teman sekamar saya yang sedang tidur, tapi saya berpikir bahwa tanda itu dikirim Tuhan untuk saya dan saya tidak mau menodainya,” tutur Malik.

Di penjara, Malik bertemu dengan beberapa Muslim dan mempelajari karakter mereka. “Menurut saya, Muslim memiliki karakter yang baik, teguh memegang kebenaran, rendah hati, penuh perhatian dan tahu bagaimana membawa diri mereka sebagai orang yang bertakwa pada Tuhannya. Di penjara saya belajar puasa, salat dan ikut salat Jumat,” ujar Malik.

Penjara ternyata membantu Malik untuk memperbaiki kehidupannya. Di sanalah ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Untuk pertama kalinya Malik merasa memiliki tujuan hidup . Di penjara ia jadi merenungi banyak hal, tentang keluarga, tentang teman dan tentang agamanya.

Setelah setahun menjalani masa tahanan, Malik bebas dan pindah ke Florida. Ia mengambil sekolah perawat dan bercita-cita ingin keliling dunia, berbagi pada orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dan menyebarkan kebenaran Islam.

“Saya pernah menjalani kehidupan yang ‘gila’ dan sekarang saya merasa mendapatkan rahmat yang besar, rahmat Islam, jalan kebenaran. Saya pernah terdampar di jalanan, di penjara dan sekarang ke Islam. Ketika Anda menemukan agama ini, tidak ada alasan untuk kembali ke masa lalu,” tukas Malik. (ln/readislam)

Sabeel Ahmed, Meninggalkan Profesi Dokter Demi Dakwah Islam

sumber : http://www.eramuslim.com

Kecintaannya pada dunia dakwah, membuatnya rela melepas profesinya sebagai dokter ahli radiologi dan lebih memilih berkonsentrasi untuk berdakwah. Ia mengaku tertarik menekuni dakwah setelah mengetahui bagaimana perjuangan ulama Ahmed Dedat dan Zair Naik dalam menyebarluaskan ajaran Islam.

Itulah pengakuan Dr. Sabeel Ahmed dalam wawancara dengan Arab News, Rabu (12/8). Ahmed kini sedang berada di Saudi melaksanakan umrah. Sekarang, Dr. Ahmed menjabat sebagai direktur GainPeace, sebuah proyek kegiatan dakwah yang digelar organisasi Islamic Circle of North Amerika di wilayah AS dan Kanada.

“Saya sangat terpengaruh oleh Deedat dan Naik, mentor saya, untuk melakukan dakwah Islam ke seluruh AS dengan sukses,” ujar Dr. Ahmed dalam wawancara itu.

“Saat ini, pesan-pesan tentang Islam sudah dipasang di papan-papan reklame dan bis-bis di berbagai tempat di AS, termasuk di Washington, New York dan Chicago sebagai bagian dari program GainPeace,” sambungnya.

GainPeace menggelar berbagai diskusi dan konferensi tentang Islam dan menyediakan outlet-outlet khusus di tempat-tempat umum bahkan datang dari rumah ke rumah dalam berdakwah, serta memanfaatkan berbagai media komunikasi seperti televisi, radio dan internet.

Menurut Dr. Ahmed gerakan dakwah ini tidak sia-sia karena sepanjang tahun ini saja, sudah ada 600 orang yang masuk Islam. “Islam kerap disalahtafsirkan, oleh sebab itu sebuah pesan yang dipasang di tempat-tempat umum merupakan kesempatan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik pada publik tentang Islam,” tukasnya.

Ia menambahkan, GainPeace ikut bertanggungjawab untuk memberikan informasi tentang ajaran Islam pada publik AS dan meluruskan pandangan-panangan yang salah yang selama ini melekat dalam pikiran publik AS tentang Islam. “Kita juga menjembatani jurang pemisah antara warga asli Amerika dengan para imigran lewat agama Islam yang mengajarkan perdamaian, toleransi dan kebersamaan,” tutur Dr. Ahmed.

Dakwah yang dilakukan oleh GainPeace bukan hanya pada kalangan non-Muslim tapi juga komunitas Muslim itu sendiri. Gerakan dakwah ini tidak segan-segan berdialog dengan berbagai lapisan komunitas Muslim bahkan datang ke masjid-masjid untuk melihat bagaimana pelaksanaan salat di masjid-masjid itu.

Untuk mereka yang ingin masuk Islam, GainPeace melakukan tiga tahapan. Tahap pertama memberikan paket “Selamat Datang di Islam” terdiri dari Al-Quran dengan terjemahan, DVD tentang cara salat, buku tentang Rasulullah Muhammad Saw dan buku-buku Islam lainnya. Tahap kedua, memberikan mentor bagi para mualaf yang sedang dalam proses belajar dan mempraktekkan ajaran Islam. Tahap ketiga, membuka kelas-kelas bagi para mualaf dan mereka yang diluar jangkauan GainPeace, akan diberikan pengajaran lewat internet.

“Keinginan kami sekarang adalah membangun stasiun televisi dan radio sendiri serta pusat perdamaian di AS untuk menyampaikan pesan-pesan Islam pada 300 juta penduduk AS,” kata Ahmed tentang target GainPeace selanjutnya.

Dr. Sabeel Ahmad sendiri berasal dari Hyderabab, sebuah kota di selatan India. Masa-masa sekolahnya sampai universitas dihabiskan di AS. Ia pernah praktek sebagai dokter ahli radiologi di Chicago selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan meninggalkan profesinya itu dan lebih memilih jalan dakwah. (ln/arabnews)

Vahora: Sosok Dokter Muslim Yang Mendakwahkan Keindahan Islam

sumber : http://www.eramuslim.com

Parveen Vahora memilih menjadi seorang dokter karena ingin bisa membantu banyak orang. Vahora yang berprofesi sebagi dokter ahli kandungan dan bekerja di klinik New Port Richery ini mengungkapkan, agama Islam-lah yang telah memberikan inspirasi baginya agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

“Saya memiliki spiritulitas yang mendalam. Saya orang yang religius tapi saya bukan seorang ekstrimis. Keyakinan saya sebagai seorang Muslim bahwa inti ajaran Islam adalah saling membantu sesama manusia,” ujar Vahora yang masih keturunan Muslim India ini.

Yang mengagumkan, sebagai seorang dokter, Vahora yang dibesarkan di Pennsylvania dan kini tinggal di Hudson ini, sedapat mungkin menghindari cara perawatan yang menyakitkan bagi para pasiennya. Ia menggunakan metoda pengobatan yang paling efektif dan peralatan kedokteran yang paling minim menimbulkan rasa sakit.

“Saya tidak terlalu percaya dengan pembedahan yang bisa menimbulkan rasa sakit bagi pasien. Saya menyebut diri saya sebagai seorang minimalis. Allah memberikan bakat ini pada saya. Prinsip dasarnya adalah, upayakan untuk tidak menimbulkan luka,” ujar Vahora.

Vahora juga membiasakan diri mengajak pasiennya berdoa bersama sebelum menjalankan prosedur pengobatan. Ia juga selalu mendoakan jika ada pasiennya yang bermasalah. Doa ibarat penyembuh dan pemberi kekuatan bukan hanya bagi Vahora tapi juga bagi pasien yang ditanganinya.

“Saya tidak mau memisahkan agama dengan diri saya. Segala sesuatunya hasil dari doa,” tukas Vahora.

Di kalangan koleganya, Vahora dipuji sebagai dokter kandungan yang mudah dimintai bantuan dan penuh pengertian. “Dia selalu menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan,” puji Jamie Candalora, kolega dan juga pasien Vahora.

Sebagai seorang Muslim yang berprofesi sebagai dokter, Vahora memberikan teladan yang baik bagi lingkungannya dan secara tidak langsung ikut berdakwah tentang wajah Muslim dan Islam yang damai.

Selain kesibukannya sebagai dokter, Vahora juga aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Ia adalah penggalang dana di organisasi Peace Center for Girls yang memberikan advokasi, pendidikan dan konsultasi bagi kaum perempuan dan remaja puteri. Ia juga aktif di Community Service Council di West Pasco. Vahora mengaku sangat menikmati kegiatan sosialnya untuk kepentingan masyarakat.

Vahora juga berperan untuk menghapus stigma buruk masyarakat di lingkungannya tentang Islam dan Muslim. Untuk itu, ia selalu menjelaskan tentang agama Islam yang dianutnya dengan orang-orang yang dijumpainya. Tak jarang ia mengajak pasiennya untuk berkunjung ke Islamic Center di New Port Richery, terutama saat bulan Ramadhan ketika Vahora mendapat tugas menyediakan panganan untuk berbuka puasa bersama.

Candalora, seorang Katolik yang pernah diundang Vahora ke masjid mengungpkan kesan-kesannya. “Vahora banyak mengajarkan saya tentang agamanya. Saya tidak pernah kenal dekat dengan seorang Muslim pun. Tapi Vahora mau berbagi dengan cara yang elegan untuk menceritakan tentang agama Islam,” kata Candalora yang juga memuji kelemahlembutan Vahora.

Vahora menegaskan bahwa ia sangat bangga dengan agama Islam yang dipeluknya. “Islam adalah agama yang paling toleran. Jika Anda benar-benar taat dengan agama Anda, maka Anda seharusnya menjadi seorang manusia yang baik dan menghormati orang lain. Agama mengajarkan kita cinta kasih, segala sesuatu yang kita lakukan semata-mata mengharap ridho Allah Swt,” pesan

Bagnal :Pengalaman Ini Akan Menginspirasi Mereka

sumber : http://www.eramuslim.com


Namanya Troy Bagnal. Usianya hampir 23 tahun dan tercatat sebagai mahasiswa Arizona di State University (ASU) program studi film dan media. Pemuda asal Phoenix, Arizona ini menjadi seorang mualaf pada bulan Februari 2009 lalu.

Bagnal mengaku banyak alasan yang membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Yang jelas, Bagnal sudah tertarik dengan agama Islam sejak lama, karena Islam dan Muslim selalu menjadi isu hangat di Barat. Bagnal menyukai sejarah kuno dan sejarah dunia, termasuk masalah perang dan politik. Ia rajin mengikuti perkembangan informasi tentang konflik di Suah, Somalia, Palestina, Irak, Afghanistan, Pakistan, Chechnya, Lebanon dan daera-daerah konflik lainnya.

“Saya melakukan riset tentang konflik-konflik itu agar saya mengerti apa sebenarnya yang terjadi dan bersikap adil serta tidak bias dalam memandang konflik-konflik itu karena media massa di sini (AS) cenderung samar dalam memberitakan konflik-konflik tersebut,” kata Bagnal.

Ketika mempelajari konflik-konflik yang memang kebanyakan bersentuhan dengan umat Islam itulah Bagnal mulai tertarik untuk mempelajari sejarah dunia Islam. “Saya banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari sejarah dan budaya dunia Islam. Saya juga mengambil mata kuliah Peradaban Islam di ASU. Sejalan dengan minat saya pada sejarah dan budaya dunia Islam, saya juga tertarik dengan agama Islam itu sendiri,” papar Bagnal menceritakan awal ketertarikan pada Islam.

Bagnal dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama Kristen, tapi ia tidak lagi menjalankan ajaran Kristen sejak usia 15 tahun. Menurutnya, ajaran Kristen membuatnya bingung dan tidak logis. “Konsep Trinitas dan doktrin penebusan dosa sangat tidak masuk akal. Di Alkitab sendiri terdapat ayat-ayat yang kontradiksi dengan doktrin penebusan dosa itu,” ujar Bagnal.

Ketika mengambil mata kuliah Sejarah Islam, Bagnal bertemu dengan seorang Muslim bernama Mohammad Totah. Selain memiliki pengetahuan yang dalam tentang Al-Quran, Totah juga paham isi Alkitab dan memiliki wawasan yang luas tentang agama Islam, Kristen dan Yahudi.

“Kami banyak berdiskusi tentang perbandingan ketiga agama itu. Saya juga melakukan riset sendiri dan saya menemukan bahwa ajaran Kristen banyak yang bertentangan dengan isi Alkitabnya. Saya banyak belajar bahwa banyak ayat-ayat dalam Alkitan yang sebenarnya juga mendukung Islam,” kata Bagnal.

Ia melanjutkan, “Satu hal yang juga saya temui di Injil Barnabas, dalam injil disebutkan tentang kedatangan Muhammad (Saw). Tapi injil ini dihapus dari Alkitab.”

“Tentang Al-Quran. Saya menilai Al-Quran lebih simpel dan mudah dipahami. Islam sendiri sangat simpel, tidak bertele-tele dan tidak ada doktrin-doktrin yang membingungkan. Islam tidak mengajarkan keyakinan buta seperti dalam ajaran Kristen,” tukas Bagnal.

Ia mengungkapkan, semakin banyak ia mempelajari Islam, ia semakin menyadari bahwa agama Islam lebih logis dibandingkan ajaran Kristen yang pernah ia ketahui. “Saya bahkan lebih banyak tahu tentang Alkitab dan kekristenan sejak saya masuk Islam dibandingkan ketika saya masih seorang Kristiani,” aku Bagnal.

“Sekarang, sebagai seorang Muslim, saya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Saya mempelajari bagaimana agama-agama dibangun dan disebarkan ke seluruh dunia. Dan saya tahu, Barat menggambarkan Islam sebagai agama yang eksotis dari belahan timur. Tapi semua nabi-nabi mengajarkan hal yang sama yaitu penyerahan diri dan kepatuhan pada Tuhan,” papar Bagnal.

Bagnal terkadang merasa frustasi melihat bagaimana media massa selalu memberikan gambaran yang negatif tentang Islam. “Saya tahu ada konflik dan kekerasan di beberapa belahan dunia Islam, tapi konflik-konflik itu tidak lebih bermotifkan politik saja,” tuturnya.

Sebagai orang yang baru masuk Islam, Bagnal mengakui agak berat untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Islam, apalagi ia tingga di AS dan media massa di negaranya selalu mengedepankan stereotipe yang buruk tentang Islam. “Tapi itu bukan masalah besar buat saya, karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di studio. Saya juga banyak mendapatkan pertanyaan berkaitan dengan situasi politik dan budaya Timur Tengah dan saya harus menjelaskan pada mereka perbedaan antara Islam, ideologi politik dan praktek-praktek budaya,” ujar Bagnal.

“Timur Tengah jelas menjadi jantung dunia Islam. Yang mengecewakan, media Barat membuat stereotipe bahwa orang Islam pastilah orang Timur Tengah, padahal Muslim tersebar di seluruh dunia. Saya pikir ada nuansa rasial dalam stereotipe itu, Barat harus mengetahui fakta bahwa Kristen dan Yahudi juga berasal dari Timur Tengah, seperti halnya Islam,” sambung Bagnal.

“Pendek kata, saya memilih Islam sederhana saja karena saya mengakuinya sebagai agama yang asli dari Tuhan. Islam itu sederhana, tidak bertele-tele dan tidak membingungkan saya. Saya mencintai Islam karena mengajarkan persatuan bagi seluruh pemeluknya. Islam membantu saya untuk menjadi orang yang lebih baik,” tandas Bagnal.

Menurut Bagnal, ia merasa nyaman menjalankan ajaran Islam. Islam membantunya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, bagaimana menghadapi stress dan mengatasi persoalan hidup. Bagnal berharap masyarakat Barat memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang dunia Islam, tentang agama Islam yang sebenarnya dan tidak hanya mendengarkan hal-hal negatif tentang Islam yang digambarkan media massa.

“Semoga cerita saya ini menginspirasi mereka yang berminat dengan agama Islam dan ingin mempelajari agama Islam lebih dalam,” harap Bagal. (ln/iol)

Sarah Allen: Pengalaman Puasa Yang Berat, Menuntunnya Masuk Islam

sumber : http://www.eramuslim.com

Bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh kenangan bagi Sarah Allen. Karena pada bulan suci itulah Sarah mengalami perubahan besar dalam hidupnya, yang membulatkan tekadnya untuk segera bersyahadat.

Ia ingat, ketika Ramadhan tiba, baru setahun ia mempelajari agama Islam. Meski baru setahun mempelajari Islam, Sarah menemukan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna dan saat itu Sarah sudah punya keinginan untuk menjadi seorang Muslim.

“Setelah mempelajari agama Islam, saya makin tertarik untuk memperdalam agama ini, yang menurut saya sangat sempurna. Setelah mempelajari agama Islam, saya merasakan hidup saya pelan-pelan berubah. Cara berpakaian saya jadi lebih sopan, saya jadi lebih rendah hati dan saya merasakan kedamaian dengan perubahan itu,” ungkap Sarah.

Ia melanjutkan, “Saya sadar apa yang telah membuat saya berubah dan saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya tahu, keputusan ini akan membawa perubahan besar bukan hanya bagi hidup saya, tapi juga orang-orang tercinta di sekeliling saya. Saya pun memutuskan untuk melakukannya dengan pelan dan bertahap sebelum saya betul-betul menyatakan diri sebagai seorang Muslim.”

Bulan Ramadhan datang, Sarah berpikir inilah saat yang tepat baginya untuk mempraktekkan apa yang ia ketahui tentang Islam. Ia memutuskan untuk ikut berpuasa meski saat itu ia belum menjadi seorang Muslim. Selama mempelajari Islam, Sarah tahu umat Islam diwajibkan berpuasa pada saat bulan Ramadhan. Ia berpikir, pastilah sangat berat melakukan puasa, tidak makan dan tidak minum sehari penuh. Dan itu akhirnya ia rasakan sendiri saat Sarah mencoba berpuasa.

“Saya berpikir, pasti sulit rasanya tidak makan dan tidak minum seharian penuh. Dan saya benar ! Apalagi berpuasa pada saat musim panas, masa yang paling berat yang pernah saya rasakah. Tapi pahalanya juga besar,” ujar Sarah tentang pengalaman puasanya.

Menurutnya, ketika ia berpuasa hal yang paling berat adalah melihat orang di sekitarnya makan tanpa menyadari ia sedang berpuasa. Tapi tantangan itu membuat tekad Sarah makin kuat. “Saya kira apa yang saya rasakan juga dialami oleh saudara-saudara seiman saya di seluruh dunia, kami menahan diri dari makan dan minum untuk Allah Swt. Kita akan merasakan perasaan yang luar biasa …” ujar Sarah.

“Saya merasa seperti seorang yang sangat kuat, karena saya harus mengendalikan perilaku dan tubuh kita. Dalam kondisi itu, Anda akan merasakan bahwa Anda-lah yang punya kekuatan dan menentukan apa saja yang akan Anda lakukan.”

“Kebiasan-kebiasaan buruk harus ditunggalkan dan Anda akan merasa seperti manusia yang baru. Anda akan merasa lebih kuat dari sisi spiritual, lebih disiplin dan lebih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sosial Anda,” papar Sarah mengungkapkan apa yang dirasakannya saat berpuasa.

Tiga tahun lamanya, Sarah mempelajari Islam dan selalu ikut berpuasa di bulan Ramadhan. Akhirnya, pada bulan Januari 2005, pada usia 19 tahun, perempuan asal Sydney Australia itu memutuskan untuk bersyahadat dan menjadi seorang Muslimah.

Pengalaman berpuasa telah memberikannya banyak pengalaman batin untuk menghayati makna ibadah puasa bagi seorang Muslim. Bedanya, kata Sarah, setelah ia menjadi seorang Muslim, ia jadi lebih memahami kewajiban berpuasa dan aturan dan tata cara menjalankan ibadah puasa.

“Satu hal yang paling saya sukai pada bulan Ramadhan, saya merasakan Ramadhan makin memperkuat umat Islam dan saya merasakan rasa persatuan yang begitu dalam,” kata Sarah menutup ceritanya tentang pengalaman berpuasa yang mengantarkannya menjadi seorang Muslimah. (ln/readislam-iol)

Alicia Rana Alya, Temukan Hidayah di Negeri Sakura

sumber : http://www.eramuslim.com

Islam adalah jalan hidup. Sebuah pilihan yang tidak akan mudah bagi kebanyakan orang untuk menjalaninya. Satu milyar lebih penduduk Muslim di dunia saat ini, namun tak semua Muslim hidup secara islami. Walaupun Islam & Al-Quran turun di tanah Arab, hidayah Allah SWT tak mengenal negara dan tempat. Dan itu terjadi kepada seorang gadis Arab yang hendak menempuh master di tanah jepang. Sebut saja namanya Alya, seorang gadis cantik keturunan Suriah. Terlalu sempurna garis lekukan wajahnya untuk ukuran orang Asia seperti saya. Ia dibesarkan di Uni Emirat Arab dan keluarganya termasuk dalam golongan menengah ke atas di negaranya.

Saya berkenalan dengan Alya di Jepang, awal musim semi bulan april 2006, saat salju masih turun perlahan di kota itu. Kami sekelas bahasa jepang dan satu laboratorium dengannya. Untuk ukuran saya, ia termasuk anak yang manja dan terbiasa dengan kemewahan. Di awal kedatangan di Jepang, kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk membeli perabotan kebutuhan sehari-hari. Saya lebih menyukai toko 100 yen, sedangkan ia tidak berkeberatan membeli di toko lebih dari 5000 yen asalkan bagus dan berkualitas sempurna.

Tujuh bulan kedatangan kami di Jepang, saya memutuskan untuk mengenakan hijab. Hanya karena ingin hidup secara islami dan memutuskan untuk menapaki jalan hidup ini secara perlahan namun pasti. Keputusan saya tentu saja mengundang perhatian anggota laboratorium bahasa tak terkecuali Alya. Ia memandang saya dengan tatapan sangat aneh dan sedikit sinis. Ketika saya ingin salat di lab, gadis yang berbahasa Arab sehari-hari itu memperhatikan saya dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun tak banyak komunikasi kami karena kesibukan lab terlalu menyita. Pernah sekali waktu berbincang mengenai Islam dengannya, namun isue negatif tentang kondisi umat Islam yang memprihatinkan, keadaan Muslimah berjilbab yang tidak memperhatikan perilaku, Muslim yang berkata tidak jujur dan suka berlaku kasar menjadi fokus pembicaraannya.

Dalam sebuah pesta yang diadakan oleh lab, seringkali saya menjadi bulan-bulanan karena termasuk seorang yang aneh karena ada dua orang (Alya dan satu orang dari negara lain) yang beragama Islam selain saya, tapi ada yang minum sake (minuman keras khas Jepang) dan Alya tidak berjilbab. Ketika Alya ditanya mengapa tidak minum sake? Ia menjawab dengan ketus, “Because i dont like it! Not because of religion or anything”.

Waktu terus berjalan dan kami pun tak banyak interaksi. Hanya sapaan selamat pagi dan senyuman di saat berpapasan yang menjadi tautan hati kami. Mejanya tepat dibelakang saya, sedangkan meja saya menghadap tembok. Saya hanya berharap semoga Allah Swt melunakkan hati dan kesombongannya untuk mengakui Islam. Kadang hati bergetar karena ia adalah seorang Arab yang mestinya memiliki pemahaman keislaman lebih banyak karena bisa berbahasa arab dan mudah membaca Al-Quran, tetapi Alhamdulillah getaran tersebut tidak membuat saya ragu untuk sealu mengawali aktivitas di lab dengan membaca di dalam hati mushaf kecil Al-Qur`an walaupun hanya setengah halaman.

Satu setengah tahun berjalan sejak perkenalan pertama kami, saat itu akhir musim semi. Disaat bunga sakura hendak menggugurkan bunganya perlahan-lahan. Mendekati ujian tesis enam bulan lagi, terlalu banyak beban saya saat itu. Belajar di negeri orang, membutuhkan banyak toleransi dan perjuangan yang tidak kalah besar dengan di negeri sendiri. Tidur jam 3 pagi dan harus datang jam 8 pagi lab sudah hampir menjadi kebiasaan yang membuat lelah fisik maupun mental. Saya kemudian memutuskan untuk meninggalkan lab tersebut dan pindah ke tempat lain.

Ternyata saya tidak sendirian mengalami tekanan yang cukup berat dari lab. beberapa kali ia sakit dan tidak masuk 1 atau 2 hari. Yang saya pahami, ia pun ternyata sedang mengalami tekanan yang luar biasa dari dalam diri dan tugas tesisnya. Sampai ketika terhitung lima hari ia tidak masuk kampus. Saya bertanya-tanya ada apa dengannya. Batin saya sangat tidak nyaman. Khawatir ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya.

Pukul 7 sore selepas Maghrib, tak tertahan lagi saya segera meluncurkan kendaraan saya menuju rumahnya. Niat hendak berkunjung untuk sekedar menyapa dan bertanya mengapa tidak masuk sekolah beberapa hari ini. Saya bawa Al-Qur`an kecil sebagai hadiah untuk ditaruh dalam box suratnya. Ingin agar ia membacanya perlahan dan merasakan keagungannya.

Pintu rumahnya terbuka setelah saya menekan bel, ternyata ia ada. Ia mempersilakan saya untuk duduk di sofa ruang tamunya. Kakinya bersimpuh di depan saya, ia berkata, besok ia akan pulang ke Abu dhabi. Saya ambil cuti. ”Saya ingin belajar salat…”, ujarnya kepada saya. Cucuran air mata berlinang di pipinya yang putih kemerahan. ”Saya ingin belajar mengaji dan belajar Islam. Mohon ajari saya berwudhu, ajari saya salat…”, pinta Alya.

Batin saya terguncang, bertasbih dan bertakbir. Allaahu Akbar!! Allah Maha Besar. Saya katakan kepadanya, resapilah.., nikmatilah saat-saat berwudhu seperti halnya saat-saat kita salat dan berbicara denganNya. Semoga saja, tetesan air yang mengalir ini menggugurkan dosa-dosa tubuh kita dan keangkuhan kita..

Kami pun larut dalam tangis dan peluk. Seperti halnya hujan rintik di pegunungan kota kami yang pelahan menggugurkan keangkuhan indah sakura yang hanya sesaat.

Minggu lalu, saya meneleponnya.. Ia di Abu dhabi, saya masih di negeri ini. Ia berkata “My hair… My hair.. I want to wear hijab..” kudengar suara Alya di ujung telepon

Semoga Allah SWT menjaga dan menuntunnya dalam kasih sayang menapaki jalan Islam dengan perlahan namun pasti.

———————————————————————————————————–

Kepada para muslim dan muslimah dimana saja berada, tetaplah melakukan yang terbaik sesuai dengan tata cara dan kehendak yang Allah SWT tuangkan dalam Al-Qur`an dan hadis. Bukan atas kehendak kita dan kesenangan terselubung. Karena kita tidak akan pernah tahu di ruang waktu mana Allah Swt menurunkan hidayahNya kepada seseorang dengan dan tanpa kehadiran kita.

Wallahualambisshowab

pengirim: Pelajar Muslimah di Jepang

Aasiya Inaya: Saya Tidak Bisa Menghindar Dari Kebenaran

sumber : http://www.eramuslim.com

Aasiya Inaya, dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang menganut agama Hindu yang meyakini bahwa Tuhan itu ada dalam berbagai wujud mulai dari air, sungai, batu sampai pepohonan. Oleh sebab itu, Asiya mengaku bangga sebagai penganut politheis, yang meyakini bahwa semua obyek ciptaan Tuhan layak disembah karena menurutnya, di setiap benda ada bagian Tuhan di dalamnya.

Tapi keyakinan Aasiya mulai berubah ketika ia mengenal Islam, yang mengawali perjalanan panjangnya menjadi seorang Muslimah. Sebelum memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadat, Aasiya mengalami pergumulan jiwa yang hebat. Di satu sisi ia mengakui kebenaran Islam, tapi sisi hatinya yang lain masih membuatnya ragu menjadi seorang Muslim.

“Saya pertama kali mengenal Islam di sekolah menengah atas. Mayoritas teman-teman sekelas saya adalah Muslim dan setiap waktu istirahat kami biasa berdiskusi tentang Islam, utamanya karena propaganda anti-Islam yang dilancarkan organisasi-organisasi Hindu di India pasca serangan 11 September dan kerusuhan di Gujarat,” kata Aasiya.

Ia melanjjutkan,”Sepanjang pembicaraan, mereka (teman-teman Muslim Aasiya) berusaha untuk meluruskan berbagai pandangan-pandangan saya yang salah tentang agama monoteis, hak perempuan, status mereka dan berbagai mitos tentang Islam yang klise.”

“Tapi, upaya mereka tidak begitu meyakinkan saya. Saya tetap memegang teguh keyakinan saya dan tetap bangga sebagai penganut politheis,” tukas Aasiya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa sikap anti-Muslimnya agak berkurang setelah mendengar penjelasan dari teman-temannya yang Muslim. “Saya mulai merasa tersentuh dengan penderitaan mereka, bagian dari masyarakat kami, yang harus termarginalkan hanya karena ingin menjalankan ajaran agama mereka. Pandangan-pandangan saya pun jadi agak sekular …” sambung Aasiya.

Tapi semua itu belum menggerakkan hati Aasiya untuk memeluk agama Islam. Aasiya mulai beralih ke kelompok Arya Samaj, sebuah kelompok penganut agama Hindu yang keluar dari mainstream Hinduisme. Kelompok ini meyakini bahwa Hinduisme adalah agama monoteis dan tidak mengajarkan umatnya untuk menyembah berhala. Setelah menjadi bagian kelompok ini, Aasiya tidak lagi menyembah banyak benda, ia melakukan ritual Arya Samaj dan jadi rajin ke kuil.

Setelah beberapa waktu menjalani ritual Arya Samaj, Aasiya menemukan bahwa keyakinan ini juga memiliki banyak cacat dan kekurangan. “Saya merasa kembali berada di sarang laba-laba yang sama, dimana ritual dan penyembahan terhadap api menjadi bagian integral keyakinan itu, sama seperti keyakinan yang saya anut dahulu,” paparnya.

“Tapi saya menyebut itu semua sebagai langkah panjang, sebelum akhirnya saya sampai pada keputusan untuk memeluk agama Islam,” ujar Aasinya.

“Kejelasan tentang Islam mulai saya rasakan begitu kuat ketika saya menjadi mahasiswa fakultas hukum. Ketika itu saya mengikuti kuliah tentang hukum keluarga dalam agama Hindu dan Islam, mulai dari hukum perkawinan, perceraian dan urusan keluarga lainnya.”

“Saya menemukan bahwa hukum keluarga dalam agama Hindu banyak memiliki celah kelemahan karena beragamnya aturan terkait masalah teknis, perbedaan pendapat, sehingga hukum keluarga dalam agama Hindu kerap membingungkan dan tidak pasti. Di sisi lain, hukum keluarga yang diatur oleh Islam, sangat jelas, cermat dan pasti,” tutur Aasiya.

Sejak perkualiahan itu, pandangan Aasiya terhadap Islam berubah total. Selama ini, Aasiya memandang Islam sebagai agama yang kaku dan keras. “Saya melihat umat Islam sebagai umat yang statis, hidup berdasarkan pada masa lalu sementara dunia terus berkembang. Buat saya, apa yang diyakini umat Islam tidak masuk akal, tidak praktis, kejam dan ketinggalan jaman,” kenang Aasiya mengingat pandangan-pandangannya terhadap Islam di masa lalu.

“Tapi, sejak perkuliahan itu, pendapat saya langsung berubah hanya dalam satu malam. Apa yang selama ini saya anggap statis ternyata sebuah kestabilan. Ini membuat rasa ingin tahu saya tentang Islam memuncak dan saya menghabiskan waktu berjam-jam di internet untuk bicara dengan teman-teman saya yang dulu menjelaskan tentang Islam pada saya,” papar Aasiya.

Selain bertanya pada teman-temannya yang Muslim, Aasiya juga mencari berbagai informasi tentang Islam di internet dan aktif mengikuti berbagai forum diskusi. Pengetahuan Aasiya yang mulai bertambah tentang Islam mempengaruhi sikap dan pandangan Aasiyah tentang Islam ketika ia berkumpul dan membahasnya dengan sesama temannya yang beragama Hindu. Perubahan sikap dan pandangan Aasiya, tentu saja tidak mendapat tanggapan negatif dari sahabat-sahabatnya yang Hindu.

“Mereka menyebut bahwa saya sudah mengalami ‘cuci otak’ yang ingin mengubah penganut Hindu menjadi pemeluk Islam,” kata Aasiya tentang pendapat teman-teman Hindunya.

Saat itu, Aasiya mengaku khawatir dan takut melihat ketidaksetujuan teman-temannya tentang Islam dan ia merasa telah mengkhianati teman bahkan keluarganya. Tapi keyakinan Aasiya akan kebenaran Islam justeru makin kuat dan ia merasa tidak bisa lari dari kebenaran itu.

“Sampai kapan orang bisa menghindar dari kebenaran? Anda tidak bisa hidup dalam kebohongan dan menerima kebenaran membutuhkan keberanian seperti yang disebutkan dalam ayat Al-Quran dalam surat An-Nisaa; ‘ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan’.”

“Hari itu, semua rasa kekhawatiran saya lenyap. Saya merasa, jika saya tidak pernah memeluk Islam dan selamanya saya tidak akan pernah memiliki Islam, saya akan tetap dicengkeram oleh kompleksnya kehidupan yang materialistis ini, dimana hawa nafsu membuat kita enggan melakukan hal-hal yang benar,” tandas Aasiya.

Aasiya akhirnya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim. “Alhamdulillah, hari ini saya menjadi seorang Muslimah. Saya berusaha belajar dan terus belajar al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad Saw. Insya Allah, saya akan mengikuti sunah-sunahnya dengan lebih baik. Dengan bantuan beberapa teman dan sebuah organisasi Islam, saya belajar salat lima waktu,” tuturnya.

Persoalan Aasiya sekarang adalah memberitahukan tentang keislamannya pada teman-teman Hindunya dan orangtuanya. “Cepat atau lambat, saya pasti akan memberitahu mereka. Saya berharap mereka menghormati keputusan saya dan saya berdoa, semoga Allah swt memberikan kekuatan sehingga saya bisa istiqomah dengan keputusan saya menjadi seorang Muslim,” tandas Aasiya. (ln/readislam)

Kanoute: Muslim di Luar dan Dalam Lapangan

sumber : http://www.eramuslim.com

Tak banyak pesepak bola Muslim yang mau menunjukkan identitas keislamannya di lapangan hijau. Pengecualian itu tak berlaku buat Frederic Kanoute. Penyerang klub sepakbola asal Spanyol, Sevilla bangga menjadi seorang Muslim, dan itu ia tunjukan dengan jelas dalam aksi, sikap hidup, atau selebrasinya.

Hidup di Barat, dan bergelut dengan budaya serta kebiasaan yang banyak bertentangan dengan prinsip hidup seorang Muslim, memang berat. Apalagi di dunia sepak bola, satu bidang olahraga yang paling popular di Eropa dan sangat memberi ruang pada kebebasan duniawi. Bahkan cenderung membuat orang lupa akan nilai-nilai agama. Kalaupun ada, untuk insan pesepak bola Muslim, diharuskan berhati-hati. Bukan rahasia lagi, sentimen agama masih keras dirasakan, selain juga anti-Islam yang banyak didengungkan oleh banyak pihak.

Kita tentu mengenal beberapa nama terkenal yang menghiasi dunia bola internasional. Misalnya saja, Zinedine Zidane. Jika Anda pergi ke tanah Arab dan berjumpa dengan seorang penggila bola di sana, maka jangan heran jika Zidane dianggap dewa, dikagumi sedemikian rupa. Alasannya? “Zidane seorang Muslim!”. Tapi apa daya, jarang sekali, bahkan mungkin kita tidak pernah melihat Zidane menunjukan sikapnya yang Muslim itu sendiri. Jika merayakan gol, Zidane biasa saja. Berita-berita tentang keseharian Zidane yang menunjukan kebiasaan Muslimnya, amatlah minim. Terus, kedua anak Zidane pun diberi nama Enzo dan Luca, dua nama yang sama sekali tidak mencirikan identitas Islam.

Zidane hanya satu contoh. Di Jerman, ada Franck Ribery yang juga Muslim namun—maaf—masih ikut menenggak bir ketika Bayern Muenchen juara liga. Di Premier League, Nicolas Anelka sering meletakan dua tangannya usai mencetak gol sebagai tanda syukur yang menunjukan ia seorang Muslim. Namun, media Inggris juga ramai memberitakan kehidupan bebasnya. Wallohu alam.

Namun, berbeda dengan Frederic Kanoute. Di dalam dan luar lapangan, ia adalah Muslim sejati. Siapa Kanoute?

Karir Sepakbola Kanoute

Kanoute terlahir dengan nama Frederic Oumer Kanoute di Sainte-Foy-lès-Lyon, 2 September 1977. Walaupun lahir di Prancis, tetapi Kanoute lebih dekat dengan Negara asal kedua orang tuanya, Mali. Ini dikarenakan ikatan Muslim yang melekat dalam dirinya.

Karir sepakbolanya dimulai di klub Prancis, Lyon. Ia memulai di usia yang cukup belia yaitu 18 tahun. Tahun 2000, Kanoute direkrut oleh salah satu klub Liga Inggris, West Ham United. Di klub ini, ia main sebanyak 84 kali dan menghasilkan 29 gol. Jumlah yang cukup banyak untuk ukuran pendatang baru saat itu. Karena aksinya itu, Kanoute diminati klub yang lebih besar. Pada tahun 2002, ia pun hijrah ke Tottenham Hotspur. Di Spurs, Kanoute hanya bertahan dua musim dengan torehan gol sebanyak 21. Namun karir cemerlang Kanoute sebenarnya semakin nampak ketika ia mulai bermain untuk Sevilla, klub Spanyol. Di klub ini, kecuali musim pertamanya dan musim 2008-2009, Kanoute selalu mencetak gol lebih dari 20 gol setiap musimnya. Jumlah yang hanya bisa diraih segelintir penyerang saja.

Keislaman Kanoute

Kanoute tak pernah sungkan dalam menunjukan identitas keislamannya, baik di luar lapangan ataupun di dalam lapangan. Di lapangan misalnya, setiap kali mencetak gol, ia tak pernah lupa merayakannya dengan cara-cara yang “berani”. Misalnya dengan bersujud dan atau gerak tangan seperti orang Islam yang telah berdoa.

Dalam kondisi apapun, Kanoute tetap menjalankan kewajibannya untuk shalat. Tak jarang ia shalat di kamar ganti dan disaksikan oleh rekan-rekannya. Awalnya ritual itu membuat heran sesama pemain yang memang notabene non-Islam, namun lama-kelamaan, hal itu menjadi pemandangan yang biasa. Bahkan rekan-rekannya di Sevilla memberikan toleransi yang besar kepada Kanoute untuk melaksanakan keyakinannya.

Jika Ramadhan mendatang, Kanoute tetap menjalankan ibadah puasa. Baik ketika latihan ataupun bertanding. Namun, khusus ketika berlatih, pelatih fisik Sevilla memberikan kelonggaran kepada Kanoute untuk berlatih tidak secara penuh. Sedangkan dalam pertandingan, Kanoute tetap bermain penuh dan profesional kendati tidak makan dan minum. Untungnya, pertandingan Liga Spanyol lebih banyak dimainkan pada waktu malam hari, terutama untuk klub-klub besar.

Simpati Untuk Palestina.

Ketika Gaza tengah diobrak-abrik Israel, ribuan rakyat Palestina syahid akibat agresi kaum Yahudi Zionis Januari silam, Kanoute tercatat hanya satu-satunya pesepakbola yang menyampaikan simpati dan dukungannya kepada Palestina. Hal itu ia tunjukan dengan cara membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “Palestine”. Kata Palestina itu ditulis juga dalam beberapa bahasa yang lain. Itu ia lakukan dalam pertandingan Sevilla kontra Deportivo La Coruna.

Aksi Kanoute tersebut mengundang banyak komentar dan reaksi. Federasi Sepak Bola Spanyol (REF) memberlakukan denda kepada Kanoute sebanyak 3000 euro atau sekitar Rp. 45 juta. Keputusan Federasi Sepak Bola Spanyol ini menuai aksi protes dari segala penjuru. Peraturan federasi Spanyol melarang para pemain menunjukkan berbagai publisitas atau slogan-slogan sepanjang pertandingan berlangsung. Menurut federasi itu, hukuman tersebut tidak mempermasalahkan sifat dasar politik dari pesan itu. Tetapi mereka menyoroti fakta bahwa sang pemain telah menunjukkan suatu pesan yang dinilai melanggar peraturan. Pep Guardiola, pelatih Barcelona, membela Kanoute untuk aksinya itu.

Tanggapan Kaonute? ”Itu merupakan sesuatu yang saya rasa harus saya lakukan. Setiap orang seharusnya merasa bertanggung jawab saat menyaksikan ada suatu situasi yang sangat tidak adil itu. Saya merasa 100 persen bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan saya tidak takut atas sanksi itu,” ujarnya kepada televisi swasta Telecinco.

Muslim di Luar Lapangan

Kanoute memang dikenal sebagai muslim yang taat. Pada tahun 2007 misalnya, pemain terbaik Afrika 2007 ini pernah memberikan gajinya selama setahun, sebesar 700.000 dolar AS atau sekitar Rp 7 miliar untuk menyelamatkan masjid terakhir yang ada di Sevilla. Masjid tersebut sedianya akan dijual karena populasi Muslim di kota tersebut mulai punah. Pemerintah setempat pun akhirnya memberi nama tempat ibadah tersebut sesuai dengan sang pembeli.

“Jika tidak ada Kanoute, kami tidak akan beribadah pada hari Jumat lagi, di mana itu adalah hari yang suci bagi umat muslim,” tukas wakil dari komunitas Islam Spanyol, sesaat setelah Kanoute membeli Masjid tersebut, seperti dilansir AFP.

Ketaatan Kanoute dalam mengamalkan ajaran Islam juga mendapat dukungan penuh dari Sevilla. Ia diberi jersey (seragam) khusus tanpa sponsor. Hal itu karena sponsor utama Los Palanganas, 888.com, adalah situs judi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ia juga menyumbangkan seluruh hasil penjualan kaosnya untuk beramal. (sa/bbc/wkpd)

Julius: Mualaf Menjadi Cendikiawan Muslim Disegani di Eropa

sumber : http://www.eramuslim.com Nama Abdul-Karim Germanus mungkin sangat asing di telinga kita, padahal ia ada salah satu tokoh cendikiawan Muslim Eropa yang menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk membela Islam lewat buku-buku dan karya-karya tulisnya tentang Islam. Sebelum memeluk Islam, Germanus yang bernama asli Julius Germanus adalah seorang Kristiani. Ia menyebut perpindahan agamanya dari Kristen ke Islam sebagai “momen pencerahan” dalam hidupnya.

Germanus lahir di Budapest, ibukota Hungaria pada tahun 1884 dari keluarga Kristen. Ia menjalani masa anak-anak dan remajanya dengan sulit karena selalu dililit berbagai persoalan dan mengalami penindasan. Namun ia bisa melewati masa-masa kelam itu dan berhasil menyelesaikanya kuliahnya di Universitas Budapest. Setelah lulus kuliah, Germanus memutuskan untuk menekuni bidang bahasa Turki. Untuk itu, pada tahun 1903, ia berangkat ke Turki dan kuliah lagi di jurusan bahasa Turki di Universitas Istanbul. Dalam dua tahun, Germanus meraih gelar master di bidang bahasa Turki, ia bisa berbicara, membaca dan menulis bahasa Turki dengan sempurna.

Saat kuliah di Istanbul itulah awal ketertarikan Germanus pada Islam. Karena kuliah di jurusan bahasa, ia mempelajari al-Quran dengan terjemahan bahasa Turki yang memudahkannya memahami ajaran Islam. Germanus terus menggali informasi tentang Islam dan melakukan perbandingan dengan ajaran Kristen, agama yang dianutnya sejak lahir. Ia membandingkan apa yang ditulis Kristen tentang Islam dan apa yang ditulis Quran dan Sunnah tentang Islam. Tentu saja, Germanus mau tidak mau juga harus mempelajari hadist-hadist Rasulullah Muhammad Saw yang diterjemahkan dalam bahasa Turki.

Ketika kembali ke Hungaria, Germanus melihat banyak mantan profesornya yang dikenal orientalis, salah dalam memahami Islam. Tak jarang Germanus harus adu argumentasi dengan para profesor itu soal karakter Rasulullah Muhammad Saw dan hadist-hadistnya. Karena seringnya beradu pendapat soal Islam dengan profesornya, Germanus memutuskan belajar bahasa Arab bahkan Persia. Dan dengan mudah, Germanus berhasil menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik sehingga pada tahun 1912 ia ditunjuk sebagai profesor bidang bahasa Turki, Arab, Persia dan sejarah Islam di Hungarian Royal Academy di Budapest. Ia kemudian ditunjuk untuk mengepalai Departemen Studi Oriental di Universitas Ilmu Ekonomi Budapest. Germanus juga sempat mengabid di Universitas Budapest, tapi tidak lama.

Tahun 1928, setelah keluar dari Universitas Budapest, Germanus diundang Gurudev Rabindranath Tagore dari India untuk mengepalai departemen studi Islam di Universitas Visva-Bharati di Shantiniketan, Bengal. Germanus menetap di India selama beberapa tahun dan di India pula, tepatnya di Mesjid Raya Delhi, Germanus memutuskan menjadi seorang Muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Germanus mengubah namanya Julius dengan nama Islam, Abdul Karim dan ia diberi hak istimewa untuk memberikan khutbah Jumat di masjid itu.

Perhatian Germanus yang sangat besar pada Islam dan Muslim, membuka jalan baginya untuk berkenalan dengan penyair Muslim terkenal pada masa itu, Muhammad Iqbal, asal Pakistan. Germanus dan Iqbal sering terlibat pembicaraan serius tentang Islam dan isu-isu penting yang menjadi tantangan umat Islam seperti pandangan-pandangan dari para orientaslis dan aktivitas para misionaris Kristen.

Dalam hal misionaris Kristen, Germanus dan Iqbal beda pendapat. Menurut Germanus, propaganda yang disebarkan kalangan misionaris Kristen dari Eropa adalah persoalan serius yang mengancam umat Islam. Tapi Iqbal meyakini bahwa persoalan itu timbul karena kesalahan umat Islam sendiri yang kurang mengutamakan persatuan untuk melawan agenda pada misionari.

Selain dengan Iqbal, Germanus juga menjalin hubungan erat dengan penulis asal Mesir, Mahmoud Timour. Dalam sebuah bukunya, Timour menulis tentang perjalanan hidup Germanus menjadi seorang mualaf. Dalam buku itu, Timour mengutip pernyataan Germanus ketika ditanya soal awal mulanya ia memeluk Islam

“Saat itu adalah masa pencerahan bagi saya, karena Islam adalah agama yang benar. Satu hal yang membuat saya tertarik pada Islam karena Islam adalah esensi dari seluruh aspek kehidupan,” kata Germanus.

Setelah mempelajari bahasa Arab klasik di Kairo, Mesir. Germanus kembali mengajar di Universitas Budapest dan ia mengabdi di universitas itu selama lebih dari 40 tahun sebagai profesor bidang sejarah dan peradaban. Dalam tulisan hasil risetnya, Germanus menyerukan dunia Arab agar menjaga kelestarian bahasa Arab klasik yang hampir punah. Germanus ingin suatu hari nanti seluruh negara-negara Arab menggunakan bahasa Arab yang sama yang akan menjadi pengikat persatuan negara-negara Arab yang kaya akan warisan budaya dan sejarahnya.

Melawan Pemikiran Orientalis

Selama karir akademisnya, Germanus selalu berseberangan dengan para pemikir orientalis Eropa yang mendukung kolonialisme. Karena seringnya terlibat pertikaian dengan kaum orientalis, Germanus dipecat dari universitas dengan alasan sebagai profesor sikapnya dia sudah bersikap tidak pantas. Di tengah banyaknya tekanan terhadap Germanus, sejumlah mahasiswanya tetap memberikan dukungan dan memuji ide-ide Germanus yang telah banyak mempengaruhi pemikiran kalangan akademisi baik di Barat dan dunia Islam. Berkat dukungan itu, Germanus bisa kembali bekerja di universitas meski diprotes koleganya yang berpikiran orientalis.

Tahun 1962, Organisasi Cendikiawan Muslim Irak memilih Germanus sebagai anggota kehormatan dari luar Irak. Pada tahun yang sama, ia juga dipilih sebagai anggota akademisi bidang bahasa Arab di Kairo dan Damaskus. Di Hungaria, Germanus berusaha menyatukan seluruh Muslim di negaranya yang ketika itu berjumlah antara 1.000-2.000 orang ke dalam satu wadah organisasi dan berhasil meyakinkan pemerintah Hungaria untuk menerima Islam sebagai salah satu agama resmi negara itu.

Tahun 1935, Germanus menunaikan ibadah haji ke tanah suci dan menjadi salah satu dari sedikit Muslim Eropa yang bisa pergi haji pada masa itu. Ia menuliskan pengalaman hajinya ke dalam memoarnya berjudul “Allahu Akbar” yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Dalam berbagai artikel yang diterbitkan di beberapa media Eropa, Germanus menulis,”Saya seorang lelaki Eropa yang tidak menemukan rumah sendiri di negara saya yang sudah diperbudak oleh emas, kekuasaan dan dominasi. Kesederhaan Islam dan penghormatan kaum Muslimin terhadap Islam telah mempengaruhi hidup saya … Dunia Islam akan tetap menjaga esensi kebenarannya lewat spiritualitas dan teladan yang baik. Dan Islam akan tetap bertahan dengan dasar-dasar ajarannya tentan kebebasan, persaudaraan dan persamaan derajat seluruh umat manusia.”

Dalam artikel lain Germanus menulis, “Islam memiliki kelebihan yang mampu mengangkat derajat manusia dari sikap kebinatangan ke peradaban yang sangat mulia. Saya berharap, Islam sekali lagi bisa mencapai mukjizat itu di saat kegelapan menyelubungi kita.”

Beberapa buku yang ditulis Germanus antara lain, The Greek, Arabic Literature in Hungarian, Lights of the East, Uncovering the Arabian Peninsula, Between Intellectuals, The History of Arabic Literature, The History of the Arabs, Modern Movements in Islam, Studies in the Grammatical Structure of the Arabic Language, Journeys of Arabs, Pre-Islamic Poetry, Great Arabic Literature, Guidance From the Light of the Crescent (a personal memoir), An Adventure in the Desert, Arab Nationalism, Allahu Akbar, Mahmoud Timour and Modern Arabic Literature, The Great Arab Poets dan The Rise of Arab Culture.

Germanus wafat pada 7 November 1979 setelah hampir selama 50 tahun mengabdikan diri untuk kemajuan Islam dan Muslim di Eropa lewat pemikiran dan karya-karya tulisnya. (ln/readislam)

Rabi’a Frank: Meski Tidak Mudah, Islam Adalah Agama yang Indah

sumber : http://www.eramuslim.com

Tahun 1994, pada usia 31 tahun, Rebecca memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun mengganti namanya dengan nama Islam, Rabi’a. Selanjutnya, ia dikenal dengan nama Rabi’a Frank. Ia itu kini hidup bahagia dengan tiga puternya, hasil perkawinannya dengan seorang lelaki Maroko.

Rabi’a mengakui, perkenalannya dengan agama Islam terjadi dengan tidak sengaja. Karena kekasihnya orang Maroko, Rabi’a ingin mempelajari budaya Maroko. Ia pergi ke perpustakaan untuk mencari buku-buku tentang Maroko. Tanpa sengaja, ia juga menemukan buku-buku tentang Islam.

“Saya mulai tertarik dengan Islam dalam usia yang masih muda dan ketika usia Anda masih muda, tidak ada yang aneh, Anda hanya ingin tahu saja. Mungkin kedengarannya klise,” kata Rabi’a mengenang awal perkenalannya dengan agama Islam. Rabi’a membaca buku-buku Islam secara diam-diam karena ia tidak ingin menimbulkan kesan bahwa ia belajar Islam karena kekasihnya seorang Muslim. “Saya memulainya dengan membaca terjemahan al-Quran dalam bahasa Belanda. Isinya menggugah hati saya. Saya merasakan kenyamanan, saya merasa ada keterkaitan, saya bisa memahaminya dan hati saya tersentuh membacanya,” kata Rabi’a.

Rabi’a kemudian mendapat informasi tentang pusat kegiatan Muslim di The Hague. Ia pun pergi ke tempat itu setiap minggu. Tiba-tiba, imam di masjid itu menanyakan apakah Rabi’a mau ikut dengan beberapa orang lainnya yang akan bersyahadat. Rabi’a terkejut dengan pertanyaan itu karena ia merasa belum cukup bekal untuk menjadi seorang Muslim. Tapi Rabi’a mengiyakan ajakan imam di masjid The Hague.

“Saya ingat, waktu itu saya mengenakan kerudung yang jelek sekali, yang saya ambil begitu saja dari kamar mandi. Tapi setelah mengucapkan syahadat, saya jadi begitu emosional dan tidak henti-hentinya menangis,” kenang Rabi’a.

Tapi Rabi’a tidak pernah menyangka ia akan mendapat reaksi keras dari ibunya ketika tahu puterinya sudah menjadi seorang Muslimah. “Ketika ibu saya mendengar tentang keislaman saya, dia menerobos kamar saya, ibu berteriak dan menangis ‘kenapa kamu lakukan itu, apa yang sedang kamu pikirkan?’. Situasinya benar-benar tidak mengenakan,” tutur Rabi’a. Dalam hati ia berkata, “reaksi seperti inilah yang menjadi alasan mengapa saya tidak mengatakan keislaman saya padamu, ibu.”

Jilbab dan Cadar

Sejak masuk Islam, Rabi’a belajar mengenakan jilbab. “Butuh dua tahun bagi saya untuk belajar bagaimana caranya memakai jilbab. Sejak pertama saya masuk Islam, saya menjadikan kaum peremuan Turki dan Maroko sebagai model. Saya juga mengenakan baju panjang, uhh … saya merasa itu bukan pribadi saya. Saya merasa tidak nyaman terutama ketika ada orang yang bilang ‘lihat, ada orang Turki bermata biru’. Saya betul-betul tidak tahu bagaimana berpakaian yang pantas,” tuturnya.

Rabi’a menceritakan sebuah lelucon tentang ‘orang Islam baru’. Lelucon itu biasanya ditujukan buat para perempuan yang baru masuk Islam. Mereka yang tadinya biasa mengenakan celana jeans dan sangat peduli dengan model pakaian, tiba-tiba harus melepaskan kebiasaan itu dan mulai mengenakan model busana yang berbeda yang sesuai denga tuntutan Islam.

“Saya pikir, semua perempuan yang menjadi mualaf akan melewati fase ini, sebelum mereka betul-betul menemukan model busananya sendiri,” ujar Rabi’a.

Bagi Rabi’a, mengenakan jilbab rasanya seperti sebuah pembebasan. “Setiap hari, saya harus melewati para pekerja bangunan. Mereka selalu bersiul ketika saya lewat. Tapi, suatu pagi ketika saya lewat dengan mengenakan jilbab, mereka tidak bersiul lagi,” kata Rabi’a.

“Di satu sisi, saya merasa sangat bahagia. Saya berpikir ‘akhirnya, inilah saya’. Di sisi lain, saya juga ingin mengatakan bahwa meski penampilan saya berubah, saya tetap orang yang sama,” sambungnya.

Rabi’a bukan hanya harus menghadapi reaksi negatif dari ibunya, tapi juga dari keluarga suaminya yang menilainya bukan gadis baik-baik karena bukan gadis Maroko. “Bertahun-tahun saya membuktikan pada mereka dan sekarang, rasanya sayalah satu-satunya di keluarga itu yang menjalankan perintah agama dengan serius,” imbuhnya.

Tahun 2005, Rabi’a bukan hanya mengenakan jilbab tapi juga cadar. Alasannya mengenakan cadar, karena ingin memberikan sesuatu yang lebih pada Allah swt. Tiap kali melihat muslimah bercadar, hati Rabi’a tersentuh. Namun ketika ia menyampaikan keinginannya bercadar pada suaminya, ia mendapat jawaban yang tak terduga.

“Apa kamu sudah gila?” kata Rabi’a menirukan reaksi suaminya. “Suami saya tidak terlalu senang, tapi perasaan itu tidak bisa hilang dari hati saya,” kata Rabi’a.

Rabi’a membantah berbagai pandangan negatif tentang cadar. Ia menolak jika cadar disebut sebagai bentuk penindasan atau rasa malu perempuan. Cadar, tukas Rabi’a, adalah cara untuk menunjukkan rasa cinta yang besar pada Allah swt.

Bagi Rabi’a Islam adalah agama yang indah, untuk menjalankan ajaran Islam tidak selalu mudah. “Banyak orang beranggapan bahwa para mualaf hanya sedang melakukan pencarian terhadap agama yang ingin diyakininya. Jika memang demikian, saya lebih senang memilih agama yang lebih mudah dijalani,” ujar Rabi’a.

“Islam adalah agama yang indah, tapi tidak selalu mudah. Anda harus banyak bertempur melawan nafsu diri Anda sendiri,” tukasnya. (ln/iol)

Yahudi AS, Amalia Rehman: “Telah Saya Temukan Kebenaran Itu”

sumber : http://www.eramuslim.com Meski sudah 20 tahun berselang, Amalia Rehman, tidak bisa melupakan peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalan hidupnya. Peristiwa ketika ia memutuskan mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim.

Amalia lahir dari keluarga Yahudi, ibunya seorang Yahudi Amerika dan ayahnya seorang Yahudi Israel. Ayah Amalia, Abraham Zadok bekerja sebagai tentara pada masa-masa pembentukan negara Israel tahun 1948. Kedua orang tuanya termasuk Yahudi yang taat, tapi menerapkan sistem pendidikan yang lebih moderat pada Amalia dan kedua saudara lelakinya. Amalia dan keluarganya pergi ke sinagog hanya jika ada perayaan besar agama Yahudi.

Sejak kecil Amalia dikenal sebagai anak yang cerdas dan ambisius. Pada usia 13 tahun, Amalia mulai merasa ingin menjadi orang yang lebih relijius. Karena ia menganut agama Yahudi, maka Amalia berniat memperdalam ajaran agama Yahudi. Tapi, setelah mempelajari Yudaisme, Amalia merasa belum menemukan apa yang dicarinya. Ia lalu ikut kursus bahasa Ibrani, itupun tak membantunya untuk menemukan hubungan relijiusitas agama yang dianutnya.

Kemudian, sambil kuliah di bidang psikologi di Universitas Chicago, Amalia mengambil kursus Talmud. Amalia menyebut masa itu sebagai masa yang paling membahagiakannya, karena ia melihat titik terang dari apa yang dicarinya selama ini soal agama Yahudi yang dianut nenek moyangnya. Meski akhirnya, ia menyadari bahwa agama Yahudi ternyata tidak memakai kitab Taurat. Para pemeluk agama Yahudi, kata Amalia, tidak mengikuti perintah Tuhan tapi hanya mengikuti apa kata para rabbinya.

“Semua berdasarkan pada siapa yang menurut Anda benar, sangat ambigu. Agama Yahudi bukan agama sejati, bukan agama kebenaran,” ujar Amalia.

Amalia mulai mengenal agama Islam ketika ia pindah ke California untuk berkumpul bersama keluarganya. Di kota itu, Amalia berkenalan dan berteman dengan orang-orang Arab yang sering berbelanja di toko orangtuanya yang berjualan kacang dan buah-buahan yang dikeringkan di pasar petani San Jose.

“Saya tumbuh sebagai orang Yahudi dan didikan Yahudi membuat saya memandang rendah orang-orang Arab,” kata Amalia.

Meski Amalia memiliki prasangka buruk terhadap orang-orang Arab, Amalia mengakui kebaikan orang-orang Arab yang ia jumpai di toko ayahnya. Ia bahkan berteman akrab dengan mereka. “Satu hal yang menjadi perhatian saya tentang orang-orang ini, mereka selalu bersikap baik satu sama lain dan saya merasakan betapa inginnya saya merasakan seperti mereka, sebagian hati saya ingin memiliki perasaan yang indah itu,” imbuhnya.

Suatu sore, saat Amalia dan teman-teman Arabnya menonton berita di televisi yang membuatnya bertanya-tanya tentang hari kiamat yang tidak pernah ia kenal dalam agama Yahudi. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya tentang Islam ketika itu, bagi Amalia adalah cara Tuhan untuk mendekatkan diri pada Islam.

“Allah mendekati manusia dengan cara pendekatan yang manusia butuhkan. Allah mendekati saya dengan cara yang saya butuhkan, dengan menimbulkan rasa keingintahuan saya, rasa lapar terhadap ilmu, rahasia kehidupan, kematian dan makna kehidupan,” ujar Amalia.

Hingga suatu hari, Amalia mengatakan pada teman-teman Arabnya bahwa ia sedang mempertimbangkan ingin menjadi seorang Muslim. Pernyataan Amalia tentu saja mendapat dukungan dari teman-teman Arabnya, tapi tidak dari kedua orangtuanya.

Sampai Amalia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian menikah dengan salah seorang pria Arab dan memiliki seorang puteri bernama Ilana, teman-teman Yahudi dan orangtua Amalia masih belum menerima keislaman Amalia. Kedua orang tua Amalia bahkan memanggil suaminya dengan sebutan rasis “Si Arab”. Ibu Amalia sampai akhir hayatnya bahkan tidak mau berkomunikasi lagi dengan puterinya.

“Saya tidak suka Muslim, mereka komunitas kelas bawah. Mereka melempari orang-orang Israel dengan batu, membunuh orang-orang Yahudi, saya tidak percaya pada mereka. Ibu Amalia memandang suami Amalia yang Arab adalah musuh. Ibu Amalia sangat zionistis dan sangat membenci Islam,” tukas Abraham, ayah Amalia.

Itulah masa-masa terberat Amalia setelah menjadi seorang mualaf, tapi ia tidak pernah menceritakan kesulitannya pada suaminya. Seorang teman dekat Amalia, Emma Baron mengatakan bahwa sahabatnya itu pandai menyembunyikan perasaannya dan kesedihannya, termasuk ketika Amalia berpisah dengan suaminya.

Harapan kembali tumbuh di hati Amalia saat ia bertemu dengan seorang Muslim asal Pakistan bernama Habib. Pernikahannya dengan Habib hanya membawa sedikit perubahan bagi hubungan Amalia dengan keluarganya. Hubungan mereka mulai membaik tapi ayah dan kedua saudara lelaki Amalia tetap memandang Muslim bukanglah orang yang beragama, pengkhianat, anti-Yahudi dan anti-Israel.

“Saya sudah berusaha bersikap baik pada mereka, tapi saya gagal. Mereka mungkin lebih senang melihat saya jadi biarawati ketimbang menjadi seorang Muslim,” keluh Amalia.

Tapi hati Amalia sedikit terhibur, karena ibu tirinya Annete bisa menerimanya. Annete sendiri awalnya seorang Kristiani yang kemudian pindah ke agama Yahudi saat menikah dengan ayahnya, sepeninggal ibu kandungnya. Annete memuji Amalia sebagai orang bersikap dewasa dan teguh pada keyakinannya meski kerap mendengar komentar-komentar pedas dari ayahnya.

Amalia yang kini berusia 43 tahun mengakui mengalami pasang surut dalam kehidupannya sebagai seorang mualaf. Tapi ia mengakui menemui ketenangan jiwa dalam Islam. “Saya sudah menemukan kebenaran itu,” tandas Amalia yang sekarang hidup bahagia dengan suaminya Habib dan empat anak-anaknya. (ln/jfa.com)

Jacquelyn Harper, Bersyahadat Ketika Islam Dihujat

sumber : http://www.eramuslim.comSerangan 11 September 2001 menjadi awal “perang” Barat terhadap Islam dan Muslim. Sejak itulah Barat menunjukkan wajah aslinya yang ternyata telah salah memandang Islam. Berbagai tudingan dan tuduhan buruk diarahkan ke Islam. Tapi situasi itu membuat seorang perempuan AS justeru penasaran dengan agama Islam.

Jacquelyn Harper, seorang Kristiani konservatif jamaah Gereja Lutheran memenuhi rasa ingin tahunya tentang Islam dengan membaca buku-buku tentang Islam.

“Anda mendengar banyak hal-hal yang buruk tentang Islam dan itu menjadi alasan bagi saya untuk mempelajari Islam,” kata Harper.

Menurut Harper, ketika ia membaca buku-buku Islam, ia tak menemukan satupun stereotipe yang ditujukan terhadap agama Islam itu benar. Contohnya masalah perlakuan terhadap perempuan, Harper tak menemukan satupun ajaran Islam yang menindas perempuan seperti yang ia dengar selama ini.

“Setelah membaca buku-buku Islam, saya mulai merasakan agama Islam adalah agama yang masuk akal buat saya. Saya sempat syok dan berkata, ‘inilah yang saya rasakan, inilah yang saya yakini’,” ujar Harper.

Pembelajaran panjang itu membuat Harper, 25, terkesan pada agama Islam. Ia akhirnya memutuskan memeluk agama Islam pada bulan Januari lalu. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Harper mengakui Islam telah memberikan pengaruh yang positif pada hidupnya.

Untuk memperdalam ilmu agama Islamnya, Harper baru saja menyelesaikan kursus agama bagi para mualaf dan nin Muslim selama delapan bulan di North Austin Muslim Community Center. Dari kursus itu, Harper belajar tentang dasar-dasar budaya dan sejarah Islam, etika berpakaian dalam Islam, pernikahan sampai masalah puasa.

Setelah mengikuti kursus itu, Harper kini sedang mempersiapkan diri untuk mulai mengenakan jilbab. “Ketika Anda melakukan sesuatu yang baik, Anda akan merasakan bahwa Anda telah melakukan hal yang benar dan hati Anda merasakan menjadi manusia yang lebih baik,” tukas Harper. (ln/iol)

Mustafa Garment: Islam Melepaskannya Dari Jerat Narkoba

sumber : http://www.eramuslim.comMelihat penampilannya sekarang, dengan tutur kata yang lembut dan jenggot yang lebat dan posisinya sebagai kordinator forensik di Brooklyn Mental Health Court, AS orang mungkin tak percaya kalau Mustafa Garments menghabiskan hampir setengah perjalanan hidupnya di dunia kriminal dan narkoba. Tapi Islam telah mengubah jalan dan cara hidupnya sehingga Garment mampu meninggalkan dunia hitamnya dan hidup tenang dengan tuntutan Islam.

Garment, warga AS keturunan Afrika yang kini berusia 64 tahun mengungkapkan perjalanan hidupnya 20 tahun silam hingga ia mengenal Islam. Sejak kecil, Garment yang tumbuh di kawasan miskin Harlem sudah akrab dengan kemiskinan, penderitaan hidup, narkoba dan alkohol. Ia hidup sebagai tuna wisma.

“Saya masih ingat bagaimana ketika saya merasa sangat lapar, tubuh saya lemah karena kelaparan,” kata Garment yang sejak usia muda sudah harus berjuang melawan kecanduan narkoba dan minuman keras.

Garment mulai mengenal narkoba dan alkohol sejak usia 13 tahun, hingga kedua benda-benda haram itu menjadi bagian dari gaya hidupnya sampai 30 tahun kemudian. Menurut Garment, ia terbiasa mengisap mariyuana dan minum wine agar bisa diterima di tengah teman sepergaulannya. Kondisinya makin parah karena ibu Garment bekerja di bar yang akrab dengan minum-minuman keras.

“Saya sering menemui ibu saya di bar,” kata Garment.

Kecanduan Garment terhadap narkoba mencapai puncaknya saat ia mulai mengggunakan kokain yang membuat Garment malas belajar dan akhirnya memilih berhenti sekolah saat ia masih di kelas 10. Kokain membuat perilaku Garment menjadi bertambah buruk, ia mulai berani mencuri bahkan mulai ikut berjualan narkoba untuk memenuhi kebutuhannya saat kecanduannya pada kokain kambuh.

“Ketika Anda kecanduan kokain, hal pertama yang ada di pikiran Anda adalah bagaimana mendapatkan barang itu lebih banyak lagi,” ujar Garment.

Tak heran jika Garment pernah lebih dari 30 kali keluar masuk penjara dan merasakan pahitnya kehidupan penjara, karena kasus-kasus kriminal yang dilakukannya mulai dari menjual narkoba sampai perampokan.

Titik Balik

Di tengah kehidupannya yang kacau akibat karena kecanduan narkoba dan bolak balik masuk penjara, Garment yang dibesarkan di tengah keluarga Kristen Baptis, mengenal agama Islam. Ketika itu tahun 1972, pada usia 27 tahun ia kemudian menikah dengan seorang muslimah.

Setelah mulai mengenal Islam dan menikah, Garment ternyata belum juga meninggalkan gaya hidupnya yang kriminal. Garment mengakui, ketika itu, ia tidak sepenuh hati masuk Islam dan tidak berpikir untuk mengubah gaya hidupnya.

“Pola pikir saya saat itu masih sama. Saya sama sekali tidak berubah,” aku Garment. Akibatnya, isteri Garment minta cerai karena Garment tetap akrab dengan dunia narkoba dan penjara.

Garment mulai berpikir untuk berubah pada tahun 1998. Setelah 40 tahun hidup di jalan, bertahan hidup dari makanan pembagian, mencuri, menggunakan narkoba, Garment memutuskan untuk memulai kehidupan yang baru.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mendatangi tempat-tempat rehabilitasi pecandu narkotika. Ia datang ke pertemuan-pertemuan lembaga Narcotics Anonymous dan mendapatkan bantuan dari organisasi The Bridge, sebuah organisasi yang membantu para tuna wisma dan orang-orang yang kecanduan narkoba.

Di tempat itu, Garment bertemu dengan seorang mentor beragama Islam bernama Amin. Amin-lah yang membantu Garment menjadi seorang Muslim sejati sambil menjalani proses rehabilitasi dari kecanduan narkoba. Amin sendiri, dulunya juga seorang pecandu heroin dan pengidap penyakit AIDS. Pada Garment, Amin mengenalkan apa yang disebut Millati Islami, sebuah program penyembuhan bagi pecandu narkoba berdasarkan prinsip-prinsip Islami.

“Dalam program itu, kami berdiskusi tentang bagaimana mendekatkan diri pada Allah swt, membahas tentang salat,” kata Garment mengenang masa lalunya.

Sedikit demi sedikit, Garment mulai menapaki kehidupan barunya yang bebas dari narkoba. Hal itu diakui oleh Lucille Jackson yang mengelola The Birdge. Menurut Jackson, Garment telah menemukan kembali Islam yang dulu pernah dikenalnya dan itulah titik balik kehidupan Garment.

“Ia memanfaatkan progam ini dengan cara yang positif dan menerapkan ilmu yang didapatnya dengan baik,” kata Jackson.’

Membantu Orang Lain

Terkesan dengan kemajuan Garment, Jackson memberikan pekerjaan pada Garment di The Bridge sejak Garment masih dalam proses pemulihan. Garment kemudian bekerja di Mental Health Court, sebuah tempat rehabilitasi bagi para tahanan, penderita penyakit jiwa dan pecandu narkoba, yang berad di bawah tanggung jawab Mahkamah Agung Negara wilayah New York.

Garment bekerja dengan baik di pusat rehabilitasi itu. Ketika Jackson diangkat menjadi Direktur Proyek di Brooklyn Mental Health Court, Jackson meminta Garment untuk menjadi kordinator forensik di tempat itu. Karena memiliki catatan kriminal, Jackson harus meminta ijin khusus dari Mahkamah Agung untuk mempekerjakan Garment dan ia berhasil mendapatkan ijin itu.

Pekerjaan Garment adalah membantu para tahanan yang membutuhkan pengobatan atas gangguan mental yang merka derita, atau problem kecanduan narkoba yang mereka hadapi. Tak jarang ia juga harus menangani problem yang dihadapi para tuna wisma dan para pengangguran. Garment melayani mereka, terutama yang usia masih remaja dengan pendekatan orang tua yang sedang mendidik anaknya.

“Saya melihat kehidupan mereka banyak yang hilang. Saya menganggap mereka sebagai anak-anak saya sendiri. Saya bilang pada mereka untuk sekolah dan jangan melakukan tindakan yang merusak diri mereka sendiri,” tukas Garment.

Atasan Garment, Jackson puas dengan kinerja Garment di pusat rehabilitasi itu. “Dia adalah sosok manusia yang luar biasa. Dia tidak pernah membiarkan ada yang menghalangi jalannya untuk membantu para klien,” puji Jackson.

Sekarang, Garment hidup bahagia bersama keluarganya, menjadi seorang ayah dan seorang kakek. Garment bersyukur karena telah menemukan kembali Islam di saat-saat paling berat dalam hidupnya.

Selain bekerja, Garment juga berhasil menyelesaikan pendidikannya lewat program General Educational Development (GED). Ia bahkan belajar bahasa Arab dan sekarang bisa memahami isi al-Quran. Keinginannya yang lain adalah, suatu saat nanti ia ingin meraih gelar kesarjanaan di bidang studi Islam.

“Saya sekarang seorang Muslim. Kondisi saya sepenuhnya ada di tangan saya dan karena takdir Allah swt,” tandas Garment. (ln/iol)

Terry Holdbrooks: Masuk Islam Saat Bertugas di Kamp Guantanamo

sumber : http://www.eramuslim.comPrajurit AS Terry Holdbrooks baru enam bulan bertugas di kamp penjara Guantanamo, Kuba. Seperti penjaga lainnya, tugasnya adalah menjaga dan mengawasi para tahanan, mendampingi tawanan yang sedang diinterogasi, berkeliling sel dan memeriksa tahanan agar tidak saling bertukar pesan dengan tahanan lainnya. Tapi malam itu, di awal tahun 2004, Holdbrooks yang sedang dapat shift jaga malam, merasakan malam berjalan begitu lambat dan membosankan. Tapi siapa yang mengira, malam itu menjadi malam bersejarah baginya karena membawanya pada agama Islam.

Untuk membunuh rasa bosan setelah berkeliling memeriksa seluruh sel, Holdbrooks berbincang-bincang dengan seorang tahanan berkebangsaan Maroko yang dikenal dengan julukan “Jenderal”. Meski baru enam bulan bertugas di kamp Guantanamo, persahabatan antara Holdbrooks dan sang “Jenderal” yang nama aslinya Ahmed Errachidi, cukup dekat.

Saat itu hampir tengah malam, perbincangannya dengan Errachidi membuat Holdbrooks merasa makin skeptis tentang kamp penjara Guantanamo dan ia mulai memikirkan masa depan hidupnya. Holdbrooks lalu memesan buku-buku tentang Arab dan Islam.

Masih di awal tahun 2004, suatu malam, Holdbrook kembali berbincang-bincang dengan “Jenderal” kali ini tentang kalimat syahadat dalam Islam, sebagai pernyataan seseorang bahwa dirinya seorang Muslim. Malam itu, Holdbrooks memberikan pena dan selembar kartu index lewat celah jeruji penjara dan meminta sang “Jenderal” untuk menuliskan kalimat syahadat dalam bahasa Arab dan artinya dalam bahasa Inggris. Holdbrooks kemudian membaca kalimat syahadat dengan sudara keras, saat itulah, di lorong sel kamp Delta di Guantanamo, Holdbrooks menjadi seorang Muslim.

Cuma setahun, Holdbrooks bertugas di kemiliteran AS, tahun 2005 ia meninggalkan dinas militer. Dalam beberapa wawancara dengan Newsweek, ia dan beberapa mantan pejaga penjara kamp Guantanamo mengakui tindakan sadis dan penyiksaan terhadap para tahanan di kamp tersebut. Namun ia juga mengungkapkan adanya interaksi yang baik antara sejumlah penjaga dengan para tahanan. Mereka sering berbincang tentang politik, agama bahkan musik. Hal itu diakui Errachidi yang mendekam di kamp Guantanamo selama lima tahun dan dibebaskan tahun 2007.

“Para tahanan biasanya ngobrol dengan para penjaga yang menunjukkan sikap hormat pada para tahanan. Kami bicara soal apa saja, hal-hal yang biasa dan hal-hal yang sama-sama menarik perhatian kami,” kata Errachidi dalam email yang dikirimnya dari Maroko ke majalah Newsweek, menguatkan keterangan Holdbrooks.

Terry Holdbrooks adalah produk keluarga yang berantakan. Ia tumbuh dewas di Phoenix, kedua orangtuanya adalah pecandu narkoba dan Holdbrooks sendiri seorang pecandu minuman keras sebelum bergabung dengan militer AS pada tahun 2002. Menurut TJ-panggilang akrab Holdbrooks-ia memutuskan masuk kemiliteran karena tidak ingin hidupnya berakhir seperti orangtuanya.

Holdbrooks adalah tipe anak muda yang hanya menuruti kata hati dan sedang mencari kestabilan dalam jiwanya. Seumur hidupnya, ia jarang bersentuhan dengan masalah keagamaan. Tak disangka, di kamp Gitmo ia justeru berteman dengan seorang tahanan yang taat dengan ajaran agamanya. “Banyak orang Amerika yang tidak peduli lagi dengan Tuhan, tapi di tempat seperti ini (kamp Gitmo) para tahanan dengan taat menunaikan salat,” kata TJ.

Ketika Holdbrooks mengungkapkan keinginannya memeluk agama Islam, “Jenderal” Errachidi mengingatkannya bahwa menjadi seorang muslim adalah sebuah keputusan yang sangat serius, apalagi di kamp Guantanamo. “Errachidi ingin memastikan bahwa saya paham betul apa yang sedang saya bicarakan,” kenang Holdbrooks. Namun ia tetap memutuskan menjadi seorang Muslim dan ia hanya memberitahu kemuslimannya pada dua rekan sekamarnya.

Para tentara lainnya mulai mencium adanya perubahan pada Holdbrooks karena mereka mendengar para tahanan memanggil Holdbrook dengan nama “Mustapha” dan melihat Holdbrooks dengan terang-terangan belajar bahasa Arab. Hingga suatu malam, kepala regunya memanggil ke sebuah lapangan dimana sudah ada lima penjaga lainnya. “Mereka mulai berteriak pada saya dan menanyakan apakah saya seorang pengkhianat, apakah saya beralih,” tutur Holdbrooks. Dan malam itu, kepala regunya meninjunya, begitu juga dua penjaga lainnya.

Holdbrooks kemudian dikucilkan dan ia dipindahkan ke Ford Leonard Wood. Tapi beberapa bulan kemudian ia menerima surat pemberhentian secara hormat dari kemiliteran, dua tahun sebelum kontraknya dengan kemiliteran berakhir. Pihak militer AS tidak memberikan alasan ataupun penjelasan atau “pemecatan”nya itu.

TJ kembali ke Phoenix dan kembali ke kebiasaan lamanya, minum-minuman keras. Ia juga menceraikan istrinya. Kebiasaan minum alkohol akhirnya membawa Holdbrooks ke rumah sakit. Tak terduga, Holdbrooks kembali bertemu dengan Errachidi yang ternyata juga mengalami persoalan menyesuaikan diri setelah dibebaskan dari kamp Guantanamo. Dua sahabat ini saling berkirim email dan menyambung kembali persahabatan yang terputus.

Tiga bulan yang lalu, Holdbrooks yang kini berusia 25 tahun, berhasil menghentikan kebiasaan minumnya. Ia juga mendapatkan pekerjaan sebagai konsultan pendaftaran di Universitas Phoenix. Di dekat universitas ada sebuah masjid sekaligus pusat kegiatan Islam, Tempe Islamic Center. Holdbrooks rajin datang ke masjid itu untuk menunaikan salat berjamaah.

Ketika imam masjid Tempe Islamic Center, Amr Elsamny yang asal Mesir mengenalkan Holdbrooks pada seluruh jamaah dan menjelaskan bahwa Holdbrooks masuk Islam saat bertugas di kamp Guantanamo, para jamaah berebutan menyalami Holdbrooks.

Holdbrooks kini menjalankan ajaran Islam dengan taat. Bekas luka panjang di dahinya, hampir tak kelihatan karena tertutup kopyah yang selalu dikenakannya. “Saya selalu berpikir bahwa kamp penjara Guantanamo dijaga oleh tentara-tentara yang bengis dan kejam. Saya tidak berpikir bahwa ada tentara seperti TJ, yang justeru mendapat hidayah Islam di sana,” komentar Imam Amr Elsamny, tentang Holdbrooks. (ln/iol/NW)

Aisha Robertson, Kehangatan Umat Islam Menuntunnya Menjadi Seorang Muslimah

sumber : http://www.eramuslim.comInteraksi dengan teman-teman Muslim selama emapat tahun masa kuliahnya telah memberi pengaruh yang besar dalam kehidupan seorang Aisha Robertson. Interaksi itu membawa Aisha yang semula menganut agama Kristen pada jalan Islam, agama yang ia peluk sejak tahun 1991.

“Selama empat tahun, saya bergaul dengan teman-teman Muslim dan Muslimah. Mereka semua sangat baik dan banyak membantu saya menuju jalan kebenaran dengan sabar dan telaten,” kata Aisha, nama Islam yang digunakan setelah mengucapkan dua kalimah syahadat.

Ketika itu, Aisha sedang menyelesaikan gelar masternya di bidang sejarah. Aisha yang kini berprofesi sebagai guru dan penulis lepas di Wisconsin, AS sebelumnya sudah menyelesaikan gelar kesarjanaan di bidang pendidikan dari Universitas Wisconsin.

Aisha mulai mempelajari Islam secara formal dua tahun sebelum ia memutuskan pindah agama ke Islam. Suatu malam di bulan Agustus tahun 1991, Aisha mencoba mencari berbagai referensi tentang kekristenan di dalam al-Quran. Saat itu, masih ada hal yang mengganjal hatinya dan mencegahnya memutuskan untuk memeluk Islam. Namun ia meyakini adanya jalan “kebenaran” dan jalan langsung untuk berdialog dengan Tuhan.

“Selama ini saya tidak pernah secara penuh menerima konsep-konsep dalam agama Kristen, yang mengatakan bahwa Kristen adalah jalan satu-satunya menuju Tuhan. Saya pernah menanyakan konsep Trinitas pada seorang pendeta, tapi ia tidak bisa menjawabnya yang membuat saya makin ragu dengan ajaran Kristen. Pendeta itu hanya menasehati saya untuk menerima saja konsep Trinitas itu sebagai sebuah keimanan,” tutur Aisha.

Ia melanjutkan,”Dengan kata lain, ajaran Kristen tidak perlu masuk akal. Saya diminta mengimani saja konsep itu apa adanya, jika tidak berarti saya bukan seorang penganut Kristen yang baik. Hal ini sangat mengganggu saya. Saya berpikir, untuk apa Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran jika kita tidak menggunakannya ketika kita menyangkut masalah penyembahan padaNya.”

Itulah awal Aisha tergerak untuk mempelajari agama lain. Ketika berkunjung ke Jepang, Aisha sempat belajar agama Budha. Tapi ia merasa tidak nyaman karena harus menundukkan diri pada patung Budha. Ia pun kembali berusaha untuk menerapkan ajaran Kristen yang ia anut. Ketika itu, Aisha belum tahu sama sekali tentang Islam. Yang ia pahami, Islam hanyalah budaya dan tradisi orang-orang Arab. “Sebuah pemikiran yang sulit dipercaya. Sebagai seorang mahasiswi yang mempelajari sejarah, bagaimana bisa saya memiliki pandangan yang salah tentang Islam. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa buku-buku teks sejarah yang ditulis Barat sudah dengan tidak adil bersikap bias terhadap Islam.” papar Aisha.

Akhirnya, malam itu, pencarian dan semua tanya Aisha terjawab. “Alhamdulillah. Saya membaca surat Al-Maidah ayat 82 sampai 85 dan malam itu saya makin yakin bahwa jauh di dalam lubuk hati saya, saya benar-benar ingin menjadi seorang Muslim,” ujar Aisha.

Ia mengungkapkan, salah satu aspek yang sangat mempengaruhi keinganannya masuk Islam adalah karena ia melihat bukan hanya Muslim yang begitu semangat dan dengan bangga menjalankan ajaran Islam, tapi juga Muslim yang begitu toleran dengannya yang ketika itu masih seorang non-Muslim.

“Saya menemui banyak sekali Muslim yang seperti itu di Universitas. Saya melihat seorang Muslimah asal Malaysia, dengan anggun mengenakan jilbab dan baju Muslimnya yang panjang dan tanpa canggung berjalan ke kursinya di kelas. Saya bertemu dengan seorang Muslim yang sering datang ke toko buku tempat saya bekerja. Penampilannya selalu terlihat rapi dan bersih,” ungkap Aisha.

Setelah memeluk Islam, barulah ia mengerti mengapa Muslim yang dijumpainya selalu terlihat segar dan bersih. Karena seorang Muslim berwudhu lima kali dalam sehari.

Suatu kali dalam perjalanan dengan pesawat terbang, pesawat yang ditumpangi Aisha mengalami turbulensi. Laki-laki yang duduk di sebelah Aisha, yang ternyata seorang pilot, dengan ramah dan sopan mencoba menenangkan Aisha yang gelisah dan ketakutan bahwa semuanya akan baik-baik saja sambil menjelaskan pada Aisha bagaimana pesawat bekerja dalam menghadapi kondisi semacam itu. Belakangan Aisha tahu, bahwa pilot yang dijumpainya itu adalah seorang Muslim.

“Akhirnya saya tahu bahwa mereka adalah Muslim dari berbagai penjuru dunia. Saya kagum dengan cara mereka membawa diri dan menyaksikan betapa mereka bangga menjadi seorang Muslim. Mereka juga sangat toleran dan baik pada saya yang non-Muslim,” ujar Aisha.

Setahun sebelum Aisha bertekad masuk Islam, Aisha melihat pengumuman dialog Kristen dan Islam di majalah dinding gereja yang sering ia kunjungi. Di buletin itu Aisha membaca sedikit informasi tentang Islam. Yang membuat ia kagum, dalam buletin itu disebutkan bahwa saat itu ada sekitar satu milyar Muslim di seluruh dunia.

“Jumlah orang Arab saja tidak sampai satu milyar. Itu artinya Islam adalah agama untuk semua orang. Jika begitu banyak orang yang menganut Islam, pastilah ada kebenaran dalam agama itu,” pikir Aisha.

Aisha tidak menghadiri dialog tersebut, tapi ia pergi ke perpustakaan untuk mencari arti al-Quran dalam bahasa Inggris. Tiga hari Aisha membaca terjemahan al-Quran dan ia mengakui bahwa Islam ada cara hidup dan berdasarkan pada keseimbangan antara keadilan dan pengampunan. Sejak itu Aisha bertekad untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam.

Beruntung, di universitasnya ada cabang organisasi Muslim Student Association. Dari sanalah Aisha banyak mendapatkan buklet-buklet berisi informasi tentang Islam dan berkenalan dengan para mahasiswa dan mahasiswi Muslim. “Saya banyak bertanya pada mereka tentang Islam, tapi tak satupun dari mereka yang mendorong-dorong saya untuk pindah agama. Saya mengagumi kesabaran mereka menjawab semua rasa keingintahuan saya tentang Islam,” ungkap Aisha.

Setelah menjadi seorang Muslim, Aisha mengaku sangat bersyukur atas hidayah yang telah diberikan Allah swt padanya. “Saat itu saya seperti melangkah di atas angin. Saya ingin sekali belajar salat dan mengenakan jilbab, meski saya tahu orang akan menatap aneh pada saya dan memberikan komentar yang tidak mengenakkan,” tutur Aisha.

Seperti mualaf pada umumnya, Aisha melalui masa-masa sulit untuk menjelaskan pada keluarga bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim. Hampir semua teman non-Muslim Aisha menolaknya, tapi Allah swt memberi ganti teman-teman yang lebih baik buat Aisha.

“Saya pikir, cara terbaik untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya pada Allah swt atas hadiah keimanan yang sangat berharga ini adalah dengan mengatakan bahwa hari-hari terburuk dan tersulit saya sebagai seorang Muslim jauh lebih indah dibandingkan hari-hari terbaik saya saat masih menjadi non-Muslim,” tandas Aisha. (ln/readislam/iol)

Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam

sumber : http://www.eramuslim.comLuna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.

Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai saat ini menjadi suaminya. Sejak menikah, Luna dan suaminya sampai tiga kali berpindah tempat tinggal di apartemen yang ada di Brooklyn, New York karena ia dan suaminya merasa tidak pernah bahagia tinggal di lingkungan masyarakat Yahudi di tempat tinggalnya. Pasangan suami isteri itu kemudian memutuskan untuk membangun masa depan di Israel. Luna beserta suami yang ketika itu sudah dikaruniai empat anak, akhirnya pindah ke Israel.

Ketika tiba di Israel, Luna dan keluarganya tinggal pemukiman Yahudi, Gush Qatif di wilayah Jalur Gaza. Luna mengaku menjalani masa-masa yang berat karena melihat “cara hidup” orang-orang Yahudi di tempat tinggalnya itu dan meminta pada suaminya agar mereka pindah saja ke Netivot, yang terletak sekitar 23 kilometer ke arah utara di wilayah pendudukan Israel di Palestina.

Di tempat itu, Luna lagi-lagi menyaksikan kehidupan masyarakat Yahudi Israel yang disebutnya tidak berpendidikan. “Mungkin cuma satu dari sejuta anak yang berperilaku baik,” kata Luna. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi di Netivot, sama seperti di pemukiman Yahudi Gush Qatif, membenci orang-orang yang bukan Yahudi yaitu orang-orang Arab Palestina.

“Kami melihat tindakan mereka sebagai tindakan mereka yang buruk dan mau menang sendiri. Pada titik ini, saya dan suami tidak sepakat dengan sikap orang-orang Yahudi itu,” ujar Luna.

Hingga suatu hari suami Luna yang juga Yahudi tapi sekuler, pulang ke rumah dan mengatakan bahwa baru saja membaca al-Quran dan memutuskan untuk masuk Islam. Luna tidak tahu, bahwa suaminya selama ini banyak mempelajari Islam lewat dialog yang dilakukannya dengan seorang Muslim asal Uni Emirat Arab yang dijumpainya saat masih tinggal di pemukiman Gush Qatif. Selama dua tahun suami Luna dan kenalan Muslimnya itu berdiskusi tentang Yudaisme dan Islam.

Mendengar pernyataan suaminya ingin masuk Islam, Luna mengaku sangat-sangat syok. “Karena dalam Yudaisme, kami selalu diajarkan untuk membenci agama lain,” kata Luna yang sebenarnya mempertanyakan ajaran yang dinilainya “mau menang sendiri” itu.

Tapi sang suami cukup bijak dan mengatakan bahwa Luna boleh tetap memeluk agama Yahudi jika tidak mau masuk Islam, karena dalam Islam, seorang lelaki Muslim boleh menikah dengan perempuan ahli kitab. Suami Luna pun masuk Islam dan memakai nama Islam Yousef al-Khattab.

Dua minggu setelah suaminya masuk Islam, Luna tertarik untuk membaca al-Quran dan ketika ia membacanya, Luna merasa semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya terjawab semua dalam al-Quran. Luna lalu menyusul suaminya mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslimah. Luna memilih nama Qamar sebagai nama Islamnya.

Karena situasi yang tidak memungkinan buat mereka untuk tinggal lebih lama wilayah Israel, keluarga mualaf itu lalu memutuskan pindah ke Maroko, negara asal Luna pada tahun 2006. Sampai saat ini, pasangan Yousef dan Qamar al-Khattab hidup bahagia di tengah saudara-saudara Muslim Maroko dan menemukan kehidupan sejati setelah menemukan kebenaran dalam jalan Islam. (ln/jewsforAllah)

Konsep Trinitas Tak Masuk Akal, Kathryn Memilih Islam

sumber : http://www.eramuslim.com


Kathryn Bouchard dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang moderat. Kedua orangtuanya adalah guru sekolah Katolik. Hubungan antar keluarg mereka terbilang akrab satu sama lain. Kathryn yang asal Kanada menghabiskan masa remajanya di London dan Ontario. Seperti penganut Katolik lainnya, ia pergi ke gereja setiap hari minggu, sekolah di sekolah Katolik hingga ke jenjang universitas. Kathyrn kuliah di Brescia University College, sebuah perguruan tinggi Kristen khusus perempuan yang berafiliasi dengan Universitas Western Ontario.

“Meski saya dibesarkan dalam lingkungan Katolik, orangtua mendorong saya untuk berteman dengan beragam orang dari berbagai latar belakang dan boleh menanyakan apa saja berkaitan dengan kehidupan dan agama,” kata Kathryn.

Konsep Trinitas Yang Tak Masuk Akal

Ia mulai mempelajari agama-agama dalam usia yang relatif masih mudah ketika ia berusia 16 atau 17 tahun dan masih duduk di sekolah menengah. Kathryn mengatakan, ia tidak mau menjadi bagian dari sebuah agama hanya karena ia sudah menganut agama itu sejak ia dilahirkan. Itulah sebabnya, Kathryn tidak sungkan mempelajari beragam agama mulai dari Hindu, Budha sampai Yudaisme. Ketika itu, ia hanya sedikt saja mengeksplorasi agama Islam.

Alasan Kathryn mempelajari beragam agama, salah satunya karena banyak hal dalam ajaran Katolik yang tidak dipahami Kathryn. “Kami sering kedatangan pendeta di sekolah dan kami melakukan pengakuan dosa. Saya pernah bertanya pada seorang pendeta,’Saya betul-betul tidak paham dengan konsep Trinitas. Bisakah Anda menjelaskannya?’ Tapi pendeta itu menjawab ‘Yakini saja’. Mereka tidak memberikan jawabannya,” tutur Kathryn.

Ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang konsep Trinitas dalam agama Kristen, hingga ia di bangku kuliah dan mempelajari berbagai ilmu di seminari dan mempelajari teologi agama Katolik.

“Jika saya menanyakan tentang Trinitas, mereka akan menjawab ‘ayah dan ibumu saling mencintai, ketika mereka memiliki anak, itu seperti tiga dalam satu dengan identitas berbeda’. Jadi, banyak sekali analogi yang diberikan untuk menjelaskan bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan dan menjadi anak Tuhan dan menjadi dirinya sendiri. Saya pikir banyak penganut Kristen yang menerima konsep ini tanpa memahaminya, ” ujar Kathryn.

Ia lalu menanyakan konsep Trinitas ke beberapa temannya dan ia mendapat jawaban bahwa konsep Trinitas ada dan ditetapkan sebagai dasar kepercayaan dalam agama Kristen setelah Yesus wafat. Sebuah jawaban yang mengejutkan Kathryn, karena itu artinya semua dasar dalam ajaran Kristen adalah ciptaan manusia. Yesus semasa hidupnya tidak pernah bilang dirinya adalah anak Tuhan dan tidak pernah mengatakan bahwa dirinya Tuhan.

“Saya membaca Gospel Mathias pertama dan dalam Gospel itu Yesus tidak direferensikan sebagai anak Tuhan, tapi anak seorang manusia. Tapi dalam Gospel yang ditulis setelah Yesus wafat, banyak sekali disebutkan bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Dan disebutkan pula bahwa ada alasan politis dibalik argumen konsep Trinitas,” papar Kathryn.

Ia melanjutkan,”Saya juga menemukan bahwa Yesus berdoa dan memohon pertolongan pada Tuhan. Jika Yesus minta pertolongan pada Tuhan, lalu bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan. Ini tidak masuk akal buat saya.”

Mengenal Islam

Setelah menyelesaikan studinya di Ontario, Kathryn pindah ke Montreal dan di kota ini ia bertemu dengan banyak Muslim dari berbagai latar belakang mulai dari Eropa, Afrika dan Karibia. Keberagaman ini membuka mata Kathryn bahwa pemeluk Islam ternyata berasal dari berbagai latar belakang kebangsaaan. Fakta ini mendorongnya untuk lebih banyak belajar tentang Muslim dan latar belakang mereka.

Kathryn mulai membaca banyak referensi tentang Islam. Tapi ia menemukan bahwa contoh-contoh ekstrim tentang Islam di internet sehingga ia sempat berkomentar “Saya tidak mau menjadi bagian dari agama ini (Islam).” Oleh sang ayah, Kathryn disuruh terus membaca karena menurut sang ayah, dalam banyak hal sering terjadi salah penafsiran.

Kathryn pun melanjutkan pencariannya tentang Islam. Ia bergabung dengan situs “Muslimahs”, sebuah situs internasional yang beranggotakan para Muslimah maupun para mualaf dari berbagai negara. Dari situs inilah ia banyak belajar dan bertanya tentang Islam.

Kathryn mengatakan banyak hal yang ingin ia ketahui tentang ajaran Islam. Misalnya, apa saja persamaan dan perbedaan ajaran Islam dan Kristen, bagaimana posisi Yesus dalam Islam, siapa Nabi Muhammad, masalah poligami dan berbagai isu Islam yang muncul pasca serangan 11 September 2001 di AS.

Selama kuliah di Montreal, Kathryn belajar banyak hal tentang Islam. Ketika ia pulang ke London, orangtuanya mengira bahwa Kathryn hanya rindu kembali ke rumah dan bukan untuk memperdalam minatnya pada Islam. Kathryn lalu membeli al-Quran dan buku-buku hadist. Pada ayahnya, ia bilang bahwa al-Quran bukan buatan manusia, ketika membaca al-Quran sepertinya Tuhan sedang bicara pada kita.

“Anda merasa bahwa ada juga kebenaran yang ditulis dalam alkitab, tapi Anda tidak akan merasa bahwa itu semua tidak ditulis langsung oleh Tuhan. Sedangkan al-Quran, Anda akan merasakan kebenaran yang sesungguhnya,” ujar Kathryn.

“Saya juga menemukan banyak ilmu pengetahuan yang sudah lebih dulu diungkap oleh al-Quran dan baru muncul kemudian dalam kehidupan manusia. Saya pikir, al-Quran diturunkan pada manusia dengan tingkat emosional dan logis. Islam mendorong umatnya untuk berpikir dan mencari ilmu,” sambung Kathryn.

Kathryn pun mulai belajar salat, datang ke ceramah-ceramah agama dan mengontak masjid terdekat untuk mencari informasi apakah masjid itu punya program untuk orang-orang sepertinya dirinya, yang berminat pada agama Islam.

“Pertama kali saya masuk ke masjid, saya menangis. Saya merasakan ada energi yang begitu besar yang tidak saya rasakan ketika saya ke gerejat,” kisah Kathryn yang kemudian belajar membaca al-Quran di masjid itu. Ia terus belajar dan bergaul dengan para warga Muslim. Sedikit demi sedikit, Kathryn bisa mengubah gaya hidupnya.

Ditanya apakah orangtuanya keberatan dengan perubahan dirinya. Kathryn mengaku butuh waktu cukup panjang untuk meyakinkan orangtuanya bahwa ia tidak menjauh dari keluarganya jika memeluk Islam.

Mengucap Dua Kalimat Syahadat

Kathryn mengungkapkan bahwa ia sendiri tidak pernah menyangka akhirnya memutuskan masuk Islam dan itu semua terjadi begitu saja. Saat itu, di bulan Juni tahun 2008, seperti biasanya ia datang ke pengajian mingguan di sebuah Islamic Center. Ia sama sekali berniat mengucapkan dua kalimat syahadat hari itu. Tapi ketika ia tiba di gedung Islamic Center, banyak sekali orang-orang yang telah ia kenal hadir.

Hari itu, tema pengajian adalah umrah. Banyak anak-anak muda Muslim yang datang dan menceritakan pengalaman mereka ikut umrah serta bagaimana hidup mereka berubah setelah umrah. Pengajian dibimbing oleh Dr Munir El-Kassem. Saat Dr El-Kassem bertanya apakah ada diantara para hadirin yang ingin mengajukan pertanyaan, Kathryn dengan spontan mengangkat tangan dan berkata,”Bisakah saya mengucapkan syahadat?” Kathryn sempat kaget sendiri dengan pertanyaan itu karena ia merasa tidak merencanakannya. Semua terjadi begitu saja, spontan.

“Seketika ruangan menjadi sunyi dan saya pikir Dr El-Kassem juga terkejut. Saya memang mengenakan kerudung setiap kali datang pengajian sebagai bentuk penghormatan saya pada Islam. Dr El-Kassem lalu meminta saya maju ke depan dan menceritakan di depan hadirin bagaimana saya bisa sampai pada Islam,” tutur Kathryn.

Kathryn mengaku gemetar ketika mengucapkan dua kalimat syahadat. “Tapi saya merasa hati saya begitu lapang, penuh dengan cahaya ibarat sebuah pintu hati yang terbuka. Saya mereka sudah mengambil jalan yang benar,” ungkap Kathryn.

Itulah hari bersejarah bagi Kathryn, hari dimana ia memulai kehidupan sebagai seorang Muslimah. Tahun pertama menjalankan puasa di bulan Ramadhan, diakui Kathryn sangat berat. Namun ia merasa bahagia setelah menjadi seorang Muslim. Kathryn mengaku hidupnyan lebih teratur, disiplin dan sehat karena ia tidak lagi makan daging babi dan minum minuman beralkohol. Kathryn juga mengatakan bahwa ia kini tahu apa sebenarnya tujuan dan mau kemana arah hidupnya. (ln/iol/readislam)

Sumber :/www.eramuslim.com

Kelompok-kelompok keagamaan Yahudi telah memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha yang berada di dalam kota suci tua Yerusalem pada Ahad kemarin, menurut laporan dari Al-Aqsa Foundation untuk Waqaf dan Peninggalan budaya.

Lembaga yang mengirimkan pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, karena kelompok-kelompok keagamaan Yahudi di masa lalu tidak pernah memasuki kompleks umat Islam selama bulan suci Ramadhan yang jatuh pada hari Sabtu yang lalu.

Pihak berwenang Israel sendiri belum memberikan komentar mengenai laporan itu.

Al-Aqsa Foundation menyerukan kepada seluruh warga Palestina di Yerusalem dan di dalam jalur hijau untuk datang ke masjid Al-Aqsa dalam rangka melindungi masjid suci tersebut.

Kamis lalu website-website kelompok keagamaan Yahudi menerbitkan foto yang menunjukkan sebuah pesta pernikahan yang dilaksanakan secara diam-diam di dalam kompleks Al-Aqsha.

Kelompok keagamaan Yahudi juga memasuki kompleks untuk melakukan ritual keagamaan dan menggelar ceramah yang mengklaim adanya penemuan sisa-sisa arkeologi dari kuil Yahudi di situs tersebut.

Diyakini sebagai lokasi tempat Nabi Muhammad SAW naik ke surga selama perjalanan malannya, masjid Al-Aqsha menjadi tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah – bagi umat Islam.

Umat Yahudi mengklaim dan meyakini bahwa kompleks masjid Al-Aqsha merupakan tempat berdirinya kuil suci, di mana disana dahulu pernah berdiri kuil Sulaiman.

Lokasi ini menjadi sangat sensitif karena beberapa Yahudi ekstrimis melakukan pembongkaraan masjid Al-Aqsha untuk membangun kembali Kuil Sulaiman.

Penjajah Israel Melarang Muslim Masuk Masjidil Aqsha

Sumber :/www.eramuslim.com

Jumat, 21/08/2009

Betapa sedihnya. Betapa nestapanya. Di bulan Ramadhan ini bagi muslim Palestina. Dimana penjajah Israel laknatullah telah melarang mereka memasuki Masjidil Aqsha. Penjajah Israel itu telah melarang dan membatasi bagi muslim Palestina,yang ingin beribadah di Masjidil Aqsha, hanya dibolehkan bagi mereka yang usianya sudah diatas 50 tahun.

Perlakuan yang sangat tidak adil ini, dan membatasi setiap warga muslim Palestina yang ingin melangsungkan ibadah di bulan suci Ramadhan ini, terutama di Masjidil Aqsha telah di lakukan pemerintah Israel. Mereka yang diizinkan hanya muslim yang usianya sudah 50 tahun. Para pemuda muslim dilarang mereka masuk ke Masjidil Aqsha.

Perlakuan yang sangat keji ini, dikemukakan oleh Uri Mendes, yang mengepalai koordinasi keamanan distrik dan sebagai penghubung di wilayah Yerusalem dan Tepi Barat. Mendes menetapkan bagi para pengunjung yang ingin memasuki tempat suci Islam ini, yaitu Masjidil Aqsha hanya mereka yang umurnya sudah  diatas 50 tahun.

Sedangkan bagi para pemuda muslim yang usianya masih dibawah 50 tahun, tidak diizinkan masuk ke Masjidil Aqsha. Sedangkan untuk kaum wanita yang diizinkan masuk ke Masjidil Aqsha yang sudah berumur 45 tahun. Wanita yang usianya masih dibawah 30 tahun dilarang masuk ke Masjidil Aqsha.

Sementara itu, Dr.Yusuf Qardawi, yang menjadi pemimpin ulama se dunia itu, menyerukan kepada seluruh umat Islam agar malaksanakan shalat Jum’at di Masjidil Aqsha, pada Jum’at yang akan datang. (28/8/2009)

Qardawi yang juga menjadi Ketua Dewan Lembaga Al-Quds Internasional itu, menyerukan kepada para Menteri Wakaf di negara-negara Teluk, Kamis yang akan datang untuk memperingati 40 tahun pembakaran Masjidil Aqsha yang dilakukan Yahudi Australia (Baruck Goldstein), dan melaksanakan hari solidaritas untuk Masjidil Aqsha.

Hal senada juga dikemukakan oleh anggota Parlemen dari Hamas, Mona,yang menegaskan bahwa Al-Aqsha dalam ancaman Israel, dan kondisinya sangat memprihatinkan. (m/pic)

Kunjungan ke kompleks masjid Al-Aqsha oleh perdana menteri Israel Ariel Sharon pada tahun 2000 telah memicu bentrokan berdarah dan membangkitkan semangat rakyat Palestina dalam apa yang disebut sebagai “Intifadha jilid Dua.”(fq/mna)

sumber :/www.detiknews.com

M. Rizal Maslan – detikNews

Tangerang – Saat dilakukan pembongkaran makam, jasad Kiai Abdullah Mukmin masih utuh. Padahal usia jasad tersebut sudah 26 tahun. Kini, makam barunya pun sering didatangi warga, baik yang ingin berziarah atau hanya ingin melihat saja.

“Sejak dua minggu ini, banyak orang yang datang ke sini, ada yang penasaran pingin tahu dan berziarah,” kata Muhammad Ali saat ditemui detikcom di makam almarhum KH Abdullah Mukmin di Jl Garuda Pintu Air, RT 03 RW 02 Kelurahan Juru Mudi Baru, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Selasa (18/8/2009).

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kota Tangerang melakukan penggusuran tanah terkait pelaksanaan proyek pelebaran jalan di Benda. Proyek pelebaran jalan ini untuk membuka akses lebih lebar menuju Bandara Soekarno-Hatta yang memang tidak jauh dari lokasi pemakaman itu sendiri.

Muhammad, yang merupakan putra sulung almarhum KH Abdullah Mukmin mengatakan, lokasi kuburan awal ayahnya ini berada di Mushollah An-Najat. Lokasinya di bibir Kali Ciajane dan tidak jauh dari Ponpes As-Ashidiqiah II milik KH Iskandar SQ.

“Saat dibongkar keluarga dan masyarakat di sini tidak tahu. Namun waktu mengetahui kondisinya baru heboh, semua orang pada berdatangan termasuk wartawan,” ujar Muhammad polos.

Bahkan, Muhammad mengatakan, Kapolresta Tangerang sampai tiga kali datang
dan memerintahkan anak buahnya untuk mengambil rekaman pembongkaran dan kondisi jasad yang diyakini sebagai orang alim dan saleh itu.

“Waktu dibongkar kain kafan yang melilit di tubuh Bapak masih utuh dan berwarna putih. Saya sempat lihat wajahnya, masih seperti 26 tahun waktu dikubur, nggak berubah. Badannya juga masih seperti dulu, cuma rambutnya agak memutih. Baunya sangat wangi sekali,” terangnya.

Diakui Muhammad, sosok ayahnya selama ini dikenal sebagai seorang guru. Abdullah datang ke Juru Mudi pada tahun 1950-an, setelah belajar di Darul Ulum, Makkah, selama 25 tahun. Abdullah yang memiliki dua istri dan dikarunia 7 putra.

Saat tiba di Juru Mudi, Abdullah pun mendirikan madrasah ibtidaiyah yang diberi nama Islahuddiniyah, yang berada di depan rumahnya. Kini madrasah ini dikelola oleh putranya, Abdulal Baqi. Madrasah ini pun sebagian tergusur dan tengah dalam pembangunan.

“Karena kemampuan dan ilmu agama yang Bapak miliki, Bapak sempat dipercaya pemerintah dan negara untuk menjadi Wakil Ketua Pengadilan Agama di Tangerang,” terangnya.

Abdullah, lanjut Muhammad, selain mengajar mengaji kepada warga masyarakat,
juga sering memberikan pertolongan untuk menyembuhkan penyakit. “Tapi Bapak tidak pernah mau mengajarkan ilmu pengobatan itu. Bapak maunya mengajar ngaji saja,” tandasnya.

Saat ini, lokasi makam KH Abdullah Mukmin letaknya digeser beberapa meter
ke sekitar perumahan keluarganya. Di makam itu ada tiga, yaitu KH Abudllah
Mukmin, putra keduanya bernama M Subur dan satu kuburan yang belum diberi nisan.

Apakah ada pergantian rugi atas pembongkaran itu? “Saya tidak mau menerima uang sepeser pun, walau ditawari. Kami ikhlas untuk memindahkannya,” jawab Muhammad bijak. (zal/mad)

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Sebuah nikmat yang tidak berbilang dan wajib disyukuri, ketika seorang
Muslim masih diberi kesempatan untuk menikmati masa-masa ibadah di
hari-hari berbilang di bulan yang Allah muliakan, dengan keutamaan yang
lebih baik dari seribu bulan.

Sebagai wujud rasa syukur adalah berusaha menunaikan hak-hak bulan
Ramadhan, mengisinya dengan amal ibadah dan ketaatan, mendulang faidah,
nikmat dan pahala yang terkandung di dalamnya, dengan meneladani
sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melalui
nasihat-nasihat dan hikmah yang disampaikan oleh para pewaris beliau, para
ulama yang teguh di atas sunnah.

Untuk download, silahkan berkunjung ke Maktabah anda.

Barakallahu fikum
Redaksi
Maktabah Raudhah al-Muhibbin
redaksi@raudhatulmuhibbin.org
http://www.raudhatulmuhibbin.org

23/1/2009 | 24 Muharram 1430 H |

Sumber :Tim dakwatuna.com


Sistem ECVT (Dr. Warsito)Sistem ECVT (Dr. Warsito)

dakwatuna.com – Ilmuwan Indonesia menciptakan pemindai empat dimensi pertama di dunia. Laboratoriumnya hanya ruko sederhana. Sangat diperlukan untuk industri perminyakan. Teknologi tersebut adalah teknologi ECVT (electrical capacitance volume tomography). ECVT adalah sistem pemindai berbasis medan listrik statis yang mampu menghasilkan citra obyek volumetrik dan real time (seketika). Pada dasarnya, teknologi ECVT adalah teknologi scanning atau fotokopi yang bisa melihat secara real time dan 3 dimensi gerak bahan di dalam boiler, reaktor industri, pipa, dsb, meskipun bertekanan dan bersuhu tinggi. Teknologi ECVT bisa diterapkan di berbagai bidang mulai dari bidang industri, kedokteran, pertambangan, proses kimia, body scan untuk keperluan security, pencitraan aktifitas di dalam gunung berapi atau semburan lumpur panas, dll.

Teknologi tersebut kini dipakai oleh Badan Antariksa Amerika Serikat atau National Aeronautics and Space Administration (NASA). “Guna penerapan pada pemindaian obyek dielektrika pada saat misi antariksanya,” demikian tulis editorial jurnal Industrial and Engineering Chemistry Research edisi Januari 2009, yang diterbitkan oleh American Chemical Society. NASA, dalam jurnalnya yang dipublikasikan di Measurement Science and Technology yang terbit di Inggris, menyatakan telah memanfaatkan teknologi ECVT untuk memindai keberadaan air di permukaan luar pelapis sistem pelindung panas pada dinding pesawat ulang-aliknya. Teknologi ECVT mampu menghasilkan citra volumetrik dan real time dari konsentrasi air yang terakumulasi pada dinding luar pesawat ulang-alik.

Adalah Dr. Warsito yang menemukan dan mengembangkan teknologi ECVT ini. Ilmuwan muslim dari Indonesia ini juga sebagai pemilik paten ECVT yang didaftarkan di dokumen paten AS. Dr. Warsito meraih gelar pendidikan S1 s.d S3 di Shizuoka University, Jepang. Dia adalah Ketua Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) dan Ketua Dewan Penasehat Institute for Science and Technology Studies (Istecs). Pernah meraih penghargaan Tokoh Muda Indonesia (Gatra, 2003) dan meraih penghargaan Yang Mengubah Indonesia (Tempo, 2006). Dr. Warsito mengembangkan teknologi ECVT di Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs), sebuah laboratorium pada ruang berukuran 5 x 8 meter di sebuah ruko berlantai dua di Tangerang. CTECH boleh saja disebut laboratorium “kelas ruko”, tapi karya yang dihasilkannya sungguh “berkualitas ekspor”. Betapa tidak, CTECH di bawah pimpinan Warsito berhasil menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) pertama di dunia. Karyanya itu diluncurkan pertama kali di Koffolt Laboratories, Department of Chemical and Biomolecular Engineering, Ohio State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat, November lalu.

Bangsa Indonesia harus bangga dengan temuan yang bisa diaplikasikan langsung secara luas di dunia industri ini. Temuan atas teknologi pencitraan secara 3 dimensi sempat menjadi headlines di media electronik maupun cetak yang menyangkut sains dan teknologi di seluruh dunia belum lama ini. Berita yang pertama kali dirilis oleh Ohio State Research News pada tanggal 27 Maret 2006 itu kemudian dikutip oleh ScienceDaily (AS), Scenta (Inggris), Chemical Online, Electronics Weekly dan hampir seluruh media pemberitaan iptek di segala bidang dari energi, kedokteran, fisika, biologi, kimia, industri, elektronika hingga nano-teknologi dan antariksa di seluruh dunia. (gtr/kt-uw/bi-mbu/hdn)

6/4/2008 | 29 Rabiul Awwal 1429 H |

Oleh: Tim dakwatuna.com


Muslim Jermandakwatuna.com – Penodaan dan penistaan terhadap Islam terjadi di banyak negara di Barat. Tak terkecuali di Jerman. Penodaan dalam beragam bentuk dan cara, terbaru adalah drama “ayat-ayat setan”. Sebagaimana yang lain, drama ini juga menebar kebencian dan penodaan terhadap Islam.

Namun, pada waktu yang bersamaan justeru banyak warga negara Jerman yang masuk Islam, berbondong-bondong, dari hari ke hari.

Pekan lalu menjadi saksi, seorang Penulis sekaligus Wartawan kelahiran asli Jerman bernama Hendrik Bruder (61 th), yang sebelum-sebelumnya terkenal memojokkan Islam dan umatnya, masuk Islam. Masuk Islamnya dia boleh dibilang mendadak…. Dia berkomentar : “Dengarlah, saya telah memeluk Islam.”

Setelah terjadi pergolakan bantin yang hebat selama bertahun-tahun, karena interaksi dan diskusi intens yang ia lakukan dengan seorang Iman Masjid Ridha di Nicola.

Statemen ia setelah masuk Islam, “Saya tidak meninggalkan agama, saya justeru kembali pada hakekat agama yang benar, yaitu Islam. Karena Islam agama fitrah, semua anak manusia dilahirkan dalam kondisi demikian.” pungkasnya.

Cerita masuknya warga negara Jerman tidak hanya kali ini saja. Pada tahun sebelumnya, ribuan warga asli Jerman kembali pada pangkuan Islam. Pada tahun 2007 saja terhitung seribu orang masuk Islam, demikian diakui oleh Menteri Dalam Negeri Jerman.

Sebuah Pusat LSM Islam menyebutkan dari tiga juta empat ratus (3,4 juta) penduduk muslim di Jerman, lima belas ribu (15 000) di antara penduduk Asli Jerman.

Sebuah survai yang dilakukan oleh berbagai media massa di Jerman memaparkan, bahwa antara tahun 2004 dan 2006 merupakan jumlah terbanyak warga Jerman yang masuk Islam, sekitar tiga ribu (3000) laki-laki dan perempuan. Survai tersebut juga menambahkan bahwa jumlah itu naik tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah perguruan tinggi Islam di Jerman menyebutkan bahwa di tahun 2006 warga Jerman yang masuk Islam berjumlah empat ribu orang (4000), dibandingkan tahun 2005, hanya seribu (1000) orang. Salim Abdullah, Direktur Perguruan Tinggi Islam itu menyebutkan, “Delapan belas ribu warga asli Jerman telah masuk Islam.”

Penodaan dan penistaan yang dialamatkan pada Islam dan kaum muslimin yang terjadi di Barat, merupakan rahasia dan pemicu masuknya warga negara Jerman pada agama Islam.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Ali Imran:54. (it/ut)

Dakwah Diawasi, Kembali Ke Orde Baru

sumber :/suara-islam.com

PDF Cetak E-mail
Saturday, 22 August 2009
ImageMenanggapi strategi polisi untuk mengawasi dakwah dalam mencegah aksi terorisme, anggota Komisi III DPR, Patrialis Akbar, mengaku heran. ”Memberantas teroris kita dukung, tapi jangan salah kaprah dan overacting,” katanya.

Dia khawatir, upaya itu justru meresahkan masyarakat, karena para pendakwah diposisikan sebagai orang yang dicurigai. ”Awasi saja. Tidak perlu ada pernyataan di muka umum. Ini bahaya,” kata Patrialis, mengkhawatirkan.

Komisi III, kata Patrialis, akan meminta kejelasan dari Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri terkait langkah ini, saat rapat kerja mendatang.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, menyatakan, rencana polisi mengawasi dakwah adalah langkah mundur bagi demokrasi. ”Kalau dakwah diawasi, berarti kita kembali lagi ke zaman rezim Orde Baru,” katanya.

Pengawasan dakwah, katanya, seharusnya dilakukan para ulama sendiri. Dia yakin, ulama yang tak setuju paham-paham ekstrem jumlahnya mayoritas di Indonesia.

Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim, berpendapat senada. ”Saya kira kita mundur lagi ke Orde Baru dengan keinginan mengawasi dakwah,” kata Ifdhal.

Dakwah, terangnya, merupakan wilayah agama yang tidak bisa diintervensi pemerintah ataupun negara. ”Kita dukung usaha pemerintah memberantas teroris, tapi jangan melewati prinsip-prinsip HAM yang dijamin institusi kita.”

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menilai, jika dakwah sampai diawasi, itu merupakan kemunduran. Jarum jam sejarah, katanya, akan diputar kembali ke arah otoritarian dan penegakan hukum yang represif.

”Padahal, itu semua sudah dikoreksi melalui reformasi. Ini akan mengeliminasi prestasi demokrasi yang sudah dicapai bangsa ini. Kalau itu sampai terjadi, jelas set back,” ujarnya.

Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Adian Husaini, menolak bila dakwah dikaitkan dengan aksi terorisme. Sebab, kegiatan dakwah selama ini berjalan baik dan tidak ada masalah.

Dia pun mempertanyakan, dakwah seperti apa yang mesti diawasi. ”Jangan membuat suasana antagonis, suasana permusuhan antara pemerintah dan umat Islam. Justru seharusnya umat Islam dirangkul. Jelas ini akan meresahkan umat Islam dan memunculkan situasi adu domba,” paparnya. (shodiq/republika.co.id)

/suara-islam.com

Remaja Putri Yahudi Masuk Islam Bertambah, Rabi Yahudi Cemas PDF Cetak E-mail
Saturday, 22 August 2009
ImageSitus Al-Hayat menulis, para rabi Yahudi semakin mengkhawatirkan fenomena para remaja putri Yahudi yang pindah memeluk agama Islam.

Sebagaimana dilansir IRNA, Al-Hayat menambahkan, seorang rabi Yahudi berusaha menyembunyikan kecemasannya dan mengklaim, para remaja putri Yahudi yang telah memeluk agama lain tetap menjadi orang Yahudi.

Berdasarkan data yang diberikan, antara tahun 2005 hingga 2007, Departemen Kehakiman Zionis Israel mencatat ada 249 kasus permintaan mengubah agama dan 83 kasus terkait dengan Islam. Namun tahun lalu jumlah permintaan untuk mengganti agamanya dengan Islam bertambah menjadi 112 kasus yang menunjukkan kenaikan 35 persen kecenderungan untuk memeluk Islam di kalangan remaja putri Yahudi.

Berdasarkan laporan ini, semakin bertambahnya kasus pembunuhan, aksi kekerasan dan perampokan di kalangan orang-orang zionis membuat mereka berpaling dari agama Yahudi.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.